Selasa, 19 Februari 2019

SAMIAJI DALAM TEORI KONFLIK DAN PILPRES



Samiaji adalah pewaris sah tahta Kerajaan Hastinapura. Kurawa yg berjumlah seratus  datang ke istana tanpa tata krama sbg layaknya seseorang yg juga keturunan raja. Mereka menekan dan meminggirkan peran Samiaji di istana Hastinapura.
Destarastra semakin terlihat  kondisi fisiknya tidak mampu sekedar membawa dirinya duduk di singgasana. Perannya semakin didominasi oleh sang anak sulung, Duryudana, yang oleh hasutan pamannya, Sangkuni, secara halus untuk mengambil alih kursi kekuasaan di negri itu.
 Bisma dan Arya Widura yang semula mengambil posisi membantu Destarastra yang buta dalam memerintah negeri, justru oleh Duryudana dibuat seperti harimau ompong. Mereka tetap diberi keistimewaan di istana, tapi kekuasaan dan pengaruhnya perlahan dibatasi. Arya Widura hanya sekedar sebagai penasihat setelah Sangkuni, sementara Bisma yang seharusnya menjadi pimpinan tertinggi panglima perang negri Hastinapura, digeser menjadi hanya sekedar penasihat, sementara panglima diserahkan kepada anak muda cakap yang kesaktiannya dikagumi Duryudana. Seorang anak muda bernama Karna, yang kemudian memang tahu berterima kasih dan selalu berdiri di belakang Duryudana.
Pengaruh Sangkuni terhadap Duryudana ternyata mampu membuatnya buta hati sehingga bisa memerintahkan muslihat untuk menjebak saudaranya sendiri di sebuah bale-bale dan membakarnya di saat mereka terlelap. Kisah ini dikenal sbg BALE SIGALA-GALA.
Beruntung Pandawa dapat selamat dan menyusuri dasar bumi, hidup di negri Sapta Pratala, jauh di kedalaman perut jagat. Eh..., beruntung...??? Tentu saja bukan! Disana ada peran amalan kesaktian Samiaji, yang pada tingkat kepasrahan tinggi, justru hal-hal yang diinginkan bisa terwujud, sekalipun hal itu merupakan sesuatu yang tak mungkin. Semua terkejut, ketika beberapa tahun kemudian mereka kembali lagi ke istana Hastinapura!

Dalam sejarah  peradaban manusia, PEREBUTAN KEKUASAAN selalu menjadi kisah menarik.
Lewis Coser, seorang tokoh teori pemahaman konflik, berpendapat bahwa: masyarakat selalu berada dalam KONDISI KONFLIK. Menurutnya, suatu struktur sosial yg tampak tenang pun, juga dipenuhi beragam PERGOLAKAN dan upaya saling jegal guna menggoyahkan dan memperebutkan KEKUASAAN... Hakikat dari masyarakat adalah PEREBUTAN KEKUASAAN TANPA HENTI...!
Kubu yang berseteru saling melakukan konsolidasi (penguatan diri). Suatu konflik dapat dikatakan POSITIF apabila TIDAK MENYINGGUNG TEMA INTI. Tema inti yg dimaksud adalah PERIHAL MENDASAR YG MELANDASI SUATU HUBUNGAN.
Dalam ranah kenegaraan, ranah PILPRES dan segala intriknya, NKRI tidak akan pecah manakala ADA KOMPROMI antara mereka yg PRO PANCASILA DAN YG TIDAK, ada komptomi di antara para ulama. Disinilah dibutuhkan SAFETY VALVE (katup penyelamat) untuk menjadi MEDIATOR atas konflik yg terjadi. 
Tapi jika memang harus begitu, maka biarlah menjadi begitu.... NUSANTARA AKAN JAYA PADA WAKTUNYA. Diawali konflik besar.... SATRIA PININGIT muncul ke permukaan... Membawa damai dan kesejahteraan. Dan tetaplah ELING LAN WASPADA...
Salam sejati. Glodok 050220019

KISAH DEWA RUCI DALAM PERSPEKTIF TASAWUF




Berkat permainan super licin, Patih Sangkuni berhasil membujuk Resi Durna untuk membantu siasat Kurawa, yaitu MELENYAPKAN PANDHAWA! Sasaran utamanya adalah  Raden Wrekudara alias Arya Bimasena dan Raden Janaka alias Harjuna. Kalau 2 orang ini sudah GAME OVER, saudaranya yg lain akan mudah dibinasakan. Skala prioritasnya adalah Sang Bimasena, yang dianggap paling sakti di Pandhawa.

   Sang Bima yang saat itu sudah menyelesaikan sesi latihan ragawinya kemudian diutus sang Guru Resi Durna untuk mencari TIRTA PRAWITASARI atau air kehidupan, guna menyucikan bathin sang Bima demi kesempurnaan hidupnya. Air itu harus dicari di hutan Tibaksara di gunung Reksamuka.

   Ketika Bima menghadap ibunya, Dewi Kunthi, saudara-saudaranya yang lain mengingatkan bahwa kemungkinan besar ini hanya jebakan Sengkuni.  Karena, HUTAN TIBAKSARA sudah terkenal sebagai  "alas gung liwang liwung, sato mara, sato mati" (hutan raya tak tertembus, semua makhluk yang masuk pasti mati).

   Tapi Bima tetap teguh pada pendiriannya. Baginya, perintah guru adalah JALAN KEBENARAN. Perintah Guru tidak mungkin ditolaknya meskipun karena itu dia harus menyerahkan jiwanya. Melihat ketetapan hati anaknya, sang Ibu akhirnya merestuinya. Dengan linangan air mata, sang Bima dilepaskan dengan hanya berbekal DOA TULUS seorang ibu.

Singkat cerita, sang Bima telah berangkat menjalankan tugas dari gurunya. Seluruh hutan sudah dijelajahinya. Seluruh bukit telah didaki. Seluruh lembah telah dituruni. Tapi yang dicari tak kunjung ditemui.
   Sang Bima tanpa sengaja membangunkan 2 raksasa penunggu hutan bernama Rukmuka dan Rukmakala yang lagi enak-enak tidur. Perkelahian segera terjadi dan 2 raksasa itu terbunuh oleh Sang Bima. Tirta prawitasari tetap tak dapat ditemukan.

   Menyadari bahwa yang dicarinya tidak ada, Sang Bima kembali menghadap sang guru Durna. Sang guru kaget. Pencarian Tirta Prawitasari adalah MISI BUNUH DIRI bagi sang Bima. Tapi kok bisa-bisanya sang Bima keluar hidup-hidup dari hutan Tibaksara. Durna yg sebenarnya berwatak11-12 dg Sengkuni lalu menyuruh Bima untuk melakukan yang lebih sulit. Tirta Prawitasari harus dicari di kedalaman lautan!
   Dasar Bima orang jujur yg menganggap orang lain juga sejujur dirinya, ia sendika dawuh saja. Tanpa banyak bertanya, apalagi meragukan perintah sang Guru, Sang Bima langsung berangkat.

   Misi licik sang guru Durna dilaksanakan tanpa sak wasangka apapun. Setelah mengaduk-aduk seisi lautan, muncullah seekor naga yang menghalangi jalan Bima. Naga itu pun tak berdaya menghadapi kesaktian Bima. Tapi yang dicarinya tidak juga ditemukan.
    Ditengah kebingungannya, Bima menemukan MAKHLUK KENYERUPAI DIRINYA dalam ukuran yang lebih kecil, sedang meniti ombak lautan, mendekati dirinya. Mahluk itu memperkenalkan dirinya sebagai SANG DEWA RUCI,  sang suksma sejatinya, diri Bima yang sebenarnya. Setelah terjadi perbincangan serius, yg hanya bisa dimengerti oleh sang Bima pribadi, akhirnya Sang Bima masuk ke dalam wadag Sang Dewa Ruci melalui kuping kirinya, dan mendapat penjelasan lebih lanjut tentang HIDUP SEJATINYA.
   Sahabat....
   Untuk mendapatkan "inti pengetahuan sejati" (Tirta Prawitasari) Sang Bima harus menempuh ujian fisik dan mental sangat berat. Hutan Tibaksara adalah lambang TAJAMNYA CIPTA. Seseorang yg telah mencapai tajamnya cipta, akan sangat hati2 dalam bicara, berpikir, dan bertindak. Karena ia bersifat IDU GENI, cetusan dr pikiran dan ucapannya akan menjadi kenyataan. Maka, jika ada orang yg suka MOLAK-MOLIK ILAT, isuk dele sore tempe, ia tergolong MASIH JAUH.
   Gunung Reksamuka lambang DALAMNYA PEMAHAMAN. Sang Bimasena tidak akan mampu menuntaskannya tanpa membunuh raksasa Rukmaka sebagai lambang KEKAYAAN dan Rukmakala lambang KEMULIAAN . Maka hanya dengan mengendalikan nafsu duniawinya, manusia akan bisa mencapai tataran rohani tertinggi. Sebaliknya, jika masih terikat dan melekat dg harta benda, pangkat derajat, dan menginginkan kehormatan, manusia pada level ini juga MASIH JAUH.

   Perjalanan Bima menyelam ke dasar laut diartikan dengan  SAMUDERA PENGAMPUNAN. Jika masih menyimpan dendam amarah, ingin menjatuhkan orang lain, manusia ini juga tergolong MASIH JAUH. Membunuh Naga yang mengganggu jalan adalah simbol MELENYAPKAN KEBURUKAN DIRI SENDIRI. Di dalamnya terkandung tidak berkeinginan mengumbar aib orang lain. Maka jika ada orang seperti ini, ia juga tergolong MASIH JAUH.
   So..., jika ada yg merasa MASIH JAUH, bersyukurlah. Artinya, sdh ada kesadaran untuk menjadi dekat. Tentu saja akan berbalik 180 derajat, jika ada yg masih jauh tidak menyadari dirinya masih jauh.

    Perjalanan tasawuf  menukik ke dalam diri sendiri. Dengan kesadaran sendiri. Tidak bisa dipaksa. Masing-masing orang punya perjalanannya sendiri. Tidak mungkin sama. Dan tidak mungkin dipaksakan untuk sama.
   Rahayu.

JASA SENGKUNI MEMUNCULKAN ORANG-ORANG BAIK



   SENGKUNI adalah titisan dari Bathara Dwapara, dewa perusak, musuh kebenaran. Oleh karena itu Sengkuni memiliki watak yang jahat. Sengkuni semasa muda memiliki nama asli Harya Suman. Dalam pewayangan Sunda, ia juga dikenal dengan nama Sangkuning.

   Naiknya Sengkuni atau Harya Suman sebagai PATIH pun melalui jalan curang. Dalam lakon ‘Gandamana Luweng’ dikisahkan bagaimana Harya Suman menyiapkan jebakan luweng (lubang) bagi Patih Gandamana, teman seperjuangannya sendiri, saat mereka berperang melawan Pringgondani. Harya Suman melapor kepada Prabu Pandu Dewanata bahwa Gandamana, yang terjeblos dalam luweng, tertangkap musuh dan berkhianat. Maka dari sini bisa dibayangkan betapa JAHAT DAN KEJAM-nya seorang tokoh bernama Sengkuni ini. Orang baik difitnahnya sbg pengkhianat dan tega menjadikannya sbg TUMBAL atas syahwat egonya untuk mencapai keinginannya.
   Demikianlah...., setelah Pringgondani berhasil diduduki, Harya Suman melaporkan KABAR PALSU bahwa Gandamana telah  tewas. Maka ia pun diangkat menjadi patih, menggantikan Gandamana.

   Namun takdir berkehendak lain. Patih Gandamana berhasil diselamatkan oleh prajuritnya yang masih setia. Gandamana yang marah karena merasa difitnah dan dijebak. Ia punmenghajar Harya Suman habis-habisan sehingga wajahnya yang tampan berubah menjadi jelek. Jika Anda tahu Leonardo DiCaprio, kira2 seganteng itulah wajah Harya Suman. Tapi setelah dihajar dan dicincang wajahnya, ia tak lebih lebih ganteng dari monyet dibedaki.
   Sejak saat itu, Harya Suman terkenal dengan sebutan Sengkuni. Nama Sengkuni atau Sakuni, berasal dari kata ‘saka’ (dari) dan ‘uni’ (ucapan). Artinya, ia menderita cacat BURUK RUPA adalah karena HASIL UCAPAN-nya sendiri. Jadi, Sengkuni melambangkan manusia yang sifatnya senang memfitnah, menghasut dan mencelakakan orang lain. Atau lambang orang yang berperangai licik dan kejam.
   Ada kabar buruk tentang tokoh Sengkuni ini. Dia bukan saja hidup dalam cerita wayang saja, tapi juga hidup di sekitar Anda. Dia bisa berlaku jadi orang baik, tapi kemudian MENIKAM Anda dr belakang. Kalau di dunia politik pilpres saat ini bagaimana? Tentu saja dia juga ada. Ibarat kata... "Nggak ada loe, nggak rame!"

   Kembali ke topik....
   Track record Sengkuni antara lain... dalam lakon ‘Bale Sigalagala’ atau ‘Pandawa Obong’, pihak Pandawa dan Dewi Kunti diundang menghadiri pesta dalam bangunan yang bahannya rawan terbakar. Pihak Kurawa lalu membakar bangunan tersebut. Pandawa selamat dibopong Bima mengikuti garangan putih. Dalam lakon ‘Pandawa Dadu’, Pandawa kalah dan harus menyerahkan kerajaan Astina kepada Kurawa. Kedua taktik ini jelas dahsyat, sebuah tipu muslihat yang ampuh, membuat lawan tidak berkutik. Dan tak lain merupakan BUAH KELICIKAN dari Sengkuni.

   Pada hari terakhir Baratayuda, Sangkuni bertempur melawan Bima. Kulitnya yg keras dan kebal membuat Bima sulit mengalahkan Sengkuni. Penasihat Pandawa selain Kresna, yaitu Semar, muncul memberi tahu Bima bahwa kelemahan Sangkuni berada di bagian DUBUR, karena bagian tersebut dulunya pasti tidak terkena pengaruh MINYAK TALA, minyak ajaib yg bisa membuat badan jadi kebal senjata.
   Setelah tahu kelemahan lawan, Bima maju kembali. Sangkuni ditangkap dan disobek duburnya menggunakan Kuku Pancanaka yang tumbuh di ujung jari Bima. Dubur disobek? Ya! Jangan bayangkan betapa sakitnya, tapi begitulah seharusnya hukuman bagi tukang fitnah yg licik dan keji. Ilmu kebal Sengkuni musnah. Dengan beringas, Bima menyobek dan menguliti Sangkuni tanpa ampun.

   Dalam versi lain, Bima yg pemarah meraih leher Sengkuni, lalu dihimpitnya dengan lengannya kuat kuat. Leher Sengkuni tercekik. Mulutnya membuka lebar kehabisan napas. Bima memasukkan  kuku Pancanaka kedalam mulut biang kejahatan itu. Karena Sengkuni tidak meminum minyak tala, maka dengan mudah Bima merobek-robek mulut Sengkuni, sampai kedalam leher dan menembus ke jantungnya. Matinya Sengkuni atau Sakuni melambangkan, bahwa orang pandai bicara yang tak jujur sepantasnya kalau dirobek-robek mulutnya.

   Sahabat....
   Mungkin kalau ditanya mendalam, Sengkuni pun tak mau terlahir sebagai tokoh jahat. Namun ia pun harus menjalani takdirnya. Lewat kejahatan, muncullah kebaikan. Lewat keangkaramurkaan, muncullah para pahlawan heroik. Memang, putih akan bisa dikatakan benar-benar putih... saat yg hitam telah tampak.
   Rahayu.



BAHASA KALBU




Ada yg aneh dari kebiasaan Mbah Karso Mletho. Bukan segelas kopi yg dia minta. Kali ini dia minta teh kental pahit. Mungkin ada yg kurang beres dg pencernaannya.
"Ketika manusia sdh menemukan jatidirinya, dia akan tahu bahwa tidak ada tataran bahasa tertinggi kecuali BAHASA KALBU."
    Celoteh lelaki tua itu memaksaku menyulut rokok. Sambil menyedotnya dalam, hasrat muncul ingin tahu lebih lanjut.
    "Hanya dengan bahasa kalbu..., orang akan tahu dan ikut merasakan kesedihan orang lain, tanpa orang lain itu berkata apa2. Dia akan bahagia saat menerima pancaran kebahagiaan dr orang2 di sekelilingnya."
   "Ah, mosok to, Mbah?" gurauku. "Lah kepriwe olehe bisa melajari, Mbah?"
   "Belajarnya tdk pakai buku, tidak pakai guru. Hanya bisa dicapai dg LAKU. Belajarnya tiap hari. Ujiannya pun tiap hari. Ijazahnya diterima SETELAH MATI. Orang yg masih pekok bahasa kalbu, tidak akan berani menyuarakan apa2 walau tahu ada ketidakadilan di depan matanya. Syahwat egonya-lah yg membuatnya pekok, mati rasa dan mati kepedulian."
   "Sik... sik..., Mbah...," potongku. "Belajar koq tanpa buku tanpa guru..., ki piye nalare? Belajar jadi orang baik pasti ada tuntunannya."
   "Menjadi orang baik itu buat apa?"
   "Ya tentu saja agar menjadi orang yg berguna to, Mbah."
   "Ketika sdh menjadi orang berguna, lalu pada akhirnya akan bagaimana?"
   "Kalau mati biar masuk surga."
   Mbah Karso Mletho tersenyum, lalu nyeruput teh paitnya. "Surga... jika engkau pelajari dan engkau cari lewat tulisan di buku, surga itu pun akan kau dapatkan hanya berupa tulisan. Berupa angan2 dan khayalan. Jika kau mencari surga itu juga hanya dari kata JARENE, maka bisa jadi surgamu itu juga masih JARENE."
   "Lah, terus kepriwe, Mbah?"
   "Bahasa pikiran hanya mampu menerima input berupa sesuatu yg riil, kasat mata. Kalau sesuatu itu tdk riil,  inputnya berupa praduga, kira2, kemungkinan, gek ngono gek ngene. Dan itu bisa salah.
   " Mbuh Mbah, pusing."
   "Pusing tanda mau mengerti. Jangan banyak berangan-angan jika tdk ingin kecewa. Jangan banyak berkhayal jika tdk ingin sakit jiwa."
   "Mbuh Mbah, pusing."
   "Pusing tanda mau mengerti."
   Demikianlah.
   Glodok, 14022019, 06.51

Minggu, 24 Juni 2018

BEDA KEYAKINAN DAN KESADARAN




Dalam masa pendidikan anak2, kita seringkali memberikan keyakinan tentang ini-itu…, tentang salah-benar…, tentang baik-buruk, dll. Keyakinan itu dijabarkan dengan gambaran2, contoh…, dengan cara lembut ataupun keras. Begitu juga halnya pada saat rapat, musyawarah, kutbah, ceramah,dll. Kita biasa berusaha MEYAKINKAN  SESEORANG agar mengikuti apa yg kita yakini. Pendeknya…, MEMBERIKAN KEYAKINAN… adalah soal bagaimana agar ISI PIKIRAN KITA bisa diterima orang lain untuk kemudian menjadi SEBUAH KEYAKINAN.

Sahabat….,
Tahukah kita semua bahwa KEYAKINAN adalah berasal dari INPUT PIKIRAN…????  Keberadaan pikiran adalah masih dalam wilayah ALAM MATERI. Sifatnya tidak kekal…, bisa diperbaharui…, bisa berubah-ubah. Maka jangan heran jika ada seseorang yang HANYA PUNYA KEYAKINAN…, jika hari ini getol belajar ngaji…, besok tiba2 jadi berhenti…, hari ini rajin ibadah…, besok jadi malas bin ogah-ogahan.

Keyakinan beda dengan KESADARAN.
Keyakinan terbentuk dari KESADARAN PIKIR. Saat RAGA MATI, maka fungsi OTAK TERHENTI. Karena fungsi otak terhenti, kesadaran pikir pun hilang… lenyap…. Akibatnya…, keyakinan pun turut hilang bersama induk dari  keyakinan itu sendiri.
Tapi…, KESADARAN terbentuk karena KEMAUAN dari RUH, yang sifatnya ABADI. Orang yang berada dalam KESADARAN tidak akan pernah LUPA.., karena ingat dan lupa letaknya dalam otak, sementara KESADARAN berada dalam sang ruh. Karena inilah…, kaum SPIRITUALIS selalu mencari dan menambah KESADARAN…, bukan KEYAKINAN!

Demikianlah….
Semoga kita semua menjadi ORANG YANG SADAR DALAM KESADARAN.
Siapa yang sungguh2 mencari akan menemukan.
Jika menanam pohon, terus periharalah.
Tetaplah membuang sampah pada tempatnya.
Glodok, 24 Jun 18, 6.52.

Minggu, 03 Juni 2018

BISAKAH BELAJAR MARIFAT?



Seorang marifat tidak hanya belajar dari buku-buku…, dari petuah-petuah…, karena seluruh alam dan segala isinya adalah guru yg memberikan pelajaran dalam keheningan dan dalam keramaian, baik yg kelihatan maupun yg tak kelihatan. Dirinya adalah bagian dari alam…, adalah alam itu sendiri. Dia tidak besar, tidak juga kecil. Dia adalah bersama… antara ada dan tidak ada.

Seorang  marifat tdk pernah merasa kehilangan… karena setiap saat dia telah menerima.  Dia tidak pernah merasa sakit… karena sakit itu adalah kedemikianan yang ada. Dia tidak sakit hati saat dihina… karena kehinaan itu memang dirinya.

Seorang marifat tidak menghitung-hitung pahala…, tidak merindukan surga…, karena surga bukanlah tempat…, surga adalah suasana…, dan suasana surga itu telah dia ciptakan sendiri dalam hatinya, dalam sikap batinnya…, dalam kesadaran pikir dan roh-nya.

Seorang marifat akan menyelam dalam kedalaman yg  paling dalam. Dia belajar dari pandangan matanya…, belajar dari suara yg menyentuh indera pendengarnya…, belajar dari rasa yg menyentuh kulit… dan yg menyentuh kalbunya. Dia tidak pernah diam…, karena setiap gerak adalah dirinya. Dia lebur dan larut dalan kedemikianan. Dia MENJADI GARAM untuk memberikan rasa pada semua makhluk. Dia hilang… tapi rasa yg diberikannya tetap dapat dirasakan. Dia lebur MENJADI RAGI… lebur dan hilang untuk merubah sifat terhadap apa yg didekatinya.

Seorang marifat melempar jauh KEAKUANNYA… karena dia bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa. Dia adalah bagian yg tanpa bagian. Dia mampu membaca dalam kebutaan…. Mampu mendengar dalam ketuliannya… karena dia adalah RASA.

Glodok, 3 Juni 2018. 6.30 AM
Tetap buanglah sampah di tempatnya.
Jika menanam pohon, terus jaga dan rawatlah.

Selasa, 27 Februari 2018

SAMIAJI DALAM KONFLIK PILPRES


Samiaji adalah pewaris sah tahta Kerajaan Hastinapura. Kurawa yg berjumlah seratus  datang ke istana tanpa tata krama sbg layaknya seseorang yg juga keturunan raja. Mereka menekan dan meminggirkan peran Samiaji di istana Hastinapura.


Destarastra semakin terlihat  kondisi fisiknya tidak mampu sekedar membawa dirinya duduk di singgasana. Perannya semakin didominasi oleh sang anak sulung, Duryudana, yang oleh hasutan pamannya, Sangkuni, secara halus untuk mengambil alih kursi kekuasaan di negri itu.

Bisma dan Arya Widura yang semula mengambil posisi membantu Destarastra yang buta dalam memerintah negeri, justru oleh Duryudana dibuat seperti harimau ompong. Mereka tetap diberi keistimewaan di istana, tapi kekuasaan dan pengaruhnya perlahan dibatasi. Arya Widura hanya sekedar sebagai penasihat setelah Sangkuni, sementara Bisma yang seharusnya menjadi pimpinan tertinggi panglima perang negri Hastinapura, digeser menjadi ‘hanya’ sekedar penasihat, sementara panglima diserahkan kepada anak muda cakap yang kesaktiannya dikagumi Duryudana. Seorang anak muda bernama Karna, yang kemudian memang tahu berterima kasih dan selalu berdiri di belakang Duryudana.

Pengaruh Sangkuni terhadap Duryudana ternyata mampu membuatnya buta hati sehingga bisa memerintahkan muslihat untuk menjebak saudaranya sendiri di sebuah bale-bale dan membakarnya di saat mereka terlelap. Kisah ini dikenal sbg BALE SIGALA-GALA.

Beruntung Pandawa dapat selamat dan menyusuri dasar bumi, hidup di negri Sapta Pratala, jauh di kedalaman perut jagat. Eh..., beruntung...??? Tentu saja bukan! Disana ada peran amalan kesaktian Samiaji, yang pada tingkat kepasrahan tinggi, justru hal-hal yang diinginkan bisa terwujud, sekalipun hal itu merupakan sesuatu yang tak mungkin. Semua terkejut, ketika beberapa tahun kemudian mereka kembali lagi ke istana Hastinapura!

Belajar dari kisah Samiaji… dalam pilpres 2018…, siapa SAMIAJI-nya…? Siapa DURYUDANA-nya…? Tapi mudah2an tidak ada sang tokoh licik-jahat… SENGKUNI..!
Dalam sejarah  peradaban manusia, PEREBUTAN KEKUASAAN selalu menjadi kisah menarik.
Lewis Coser, seorang tokoh teori pemahaman konflik, berpendapat bahwa: masyarakat selalu berada dalam KONDISI KONFLIK. Menurutnya, suatu struktur sosial yg tampak tenang pun, juga dipenuhi beragam PERGOLAKAN dan upaya saling jegal guna menggoyahkan dan memperebutkan KEKUASAAN... Hakikat dari masyarakat adalah PEREBUTAN KEKUASAAN TANPA HENTI...!
Kubu yang berseteru saling melakukan konsolidasi (penguatan diri). Suatu konflik dapat dikatakan POSITIF apabila TIDAK MENYINGGUNG TEMA INTI. Tema inti yg dimaksud adalah PERIHAL MENDASAR YG MELANDASI SUATU HUBUNGAN.
Contoh kasus:
-  Seorang suami-istri tidak akan BERCERAI apabila memperdebatkan masalah kemana TUJUAN PIKNIK MINGGU INI. Hal ini beda dengan...
-  Seorang suami ketahuan SELINGKUH, dan terjadilah perdebatan.

Loyalitas atau kesetiaan adalah PELETAK DASAR dalam hubungan suami-istri.  Begitu pula bila dua orang sahabat tidak akan jadi musuh apabila hanya memperdebatkan SIAPA YG AKAN MEMBAYAR KOPI YG TELAH DIMINUM.
Dalam ranah kenegaraan, NKRI tidak akan pecah manakala ADA KOMPROMI antara mereka yg PRO PANCASILA DAN YG TIDAK, yg nasionalis dan yg agamis, demokrasi ataukah kilafah. Disinilah dibutuhkan SAFETY VALVE (katup penyelamat) untuk menjadi MEDIATOR atas konflik yg terjadi. 

Maka... biarlah menjadi begitu.... NUSANTARA AKAN JAYA PADA WAKTUNYA. Diawali konflik besar.... SATRIA PININGIT muncul ke permukaan... Membawa damai dan kesejahteraan. Dan tetaplah ELING LAN WASPADA...

JAYA DAN JAYALAH… INDONESIAKU…!!!

NUSANTARA DAMAI, TENANG, RAHAYU….

Glodok, Karangrejo, 27/2/2018, 9.34 PM