Tampilkan postingan dengan label APA IYA?. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label APA IYA?. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Maret 2012

ALLAH BENCI DAN MURKA?



    Kemarin sore saya bersama anak saya sedang nonton TV bersama. Setelah pindah-pindah chanel, tatapan mata kami tertuju kepada sebuah acara SEMACAM RENUNGAN ROHANI.  Dalam acara itu, SEORANG  USTADZ  sedang BERDAKWAH. Jika MANUSIA BERBUAT JAHAT, maka Allah akan MURKA DAN BENCI. Allah akan MARAH BESAR. Lebih-lebih lagi, Allah akan MENDATANGKAN ADZAB.
   Sahabat,  dengan sadar saya segera menyuruh anak saya untuk mengganti chanel lagi. Saya menyadari dan tahu benar akan MAKSUD BAIK dari dakwah sang ustadz, tapi saya juga tidak mau anak saya MENGIMANI DAN MENGAMINI sebuah KEBENARAN YANG MERAGUKAN.
   Benarkah Allah itu PUNYA SIFAT BENCI? Benarkah Allah itu BISA BERLAKU MURKA?  Dan  MENDATANGKAN ADZAB PULA? MENGHUKUM? MEMBUAT BENCANA DAN MALAPETAKA?
   Kalau memang benar begitu,  apa bedanya SIFAT ALLAH dengan SIFAT MANUSIA YANG MASIH RENDAH  TATARAN ROHANINYA?  Apa bedanya Dia dengan seorang ALGOJO, jika memang Dia SUKA MENGHUKUM DAN MENG-ADZAB…????
   Bagi saya, Allah adalah DZAT YANG MAHA SEMPURNA.  Dia tidak memiliki sedikitpun SIFAT BURUK. Dia bukan PENDENDAM. Dia BUKAN PENGHUKUM. Dia…. Adalah DZAT YANG MAHA WELAS-ASIH, MAHA PENGASIH DAN PENYAYANG, sakalipun itu kepada MANUSIA YANG TIDAK MAU MENGAKUI KEBERADAAN-NYA!
   Sahabat, jika Anda atau mungkin teman Anda sedang mengalami SUATU PERISTIWA YANG TIDAK MENYENANGKAN, jangan pernah BERPRASANGKA BURUK KEPADA ALLAH. Karena, suatu peristiwa yang tidak menyenangkan itu BUKAN DARI ALLAH, BUKAN KEHENDAK ALLAH.  Itu semua adalah karena AKIBAT dari apa yang telah Anda PERBUAT. Itu tak lebih dari akibat dari SEBUAH HUKUM ALAM. Anda, saya, dan siapa saja… hanya akan MEMETIK dari apa yang telah kita TANAM saja.
   Jika Anda bisa mengatakan bahwa BERPRASANGKA BURUK PADA ORANG LAIN ADALAH DOSA, lalu bagaimana jadinya bila Anda BERPRASANGKA BURUK PADA ALLAH?
   Seorang  MA’RIFAT SEJATI akan selalu MENUNJUK KEPADA DIRINYA SENDIRI bila mengalami SUATU HAL YANG DINAMAKAN PENDERITAAN ATAU COBAAN. Apa salah saya? Apa yang telah saya perbuat sehingga bisa jadi begini? Tapi sesungguhnya…, PENDERITAAN DAN COBAAN ITU TIDAK ADA, karena seorang ma’rifat  tahu dan sadar benar UNTUK APA DIA HIDUP.

   By: Susilo Pranowo

Minggu, 04 Maret 2012

KEMUDAHAN DALAM SEGALA HAL



    Beberapa tahun yang lalu saya pernah ditanya oleh salah seorang TEMAN SAYA, “Apa yang kamu inginkan dalam hidup ini?”. Lalu saya jawab dengan lugas bahwa saya hanya punya 1 keinginan yaitu: SAYA HANYA INGIN DIMUDAHKAN DALAM SEGALA HAL.
   Sahabat, Anda dapat mengira-ngira apa reaksi dari TEMAN SAYA itu?
    TEMAN SAYA cuma mengangguk pelan. “Kita amati bersama ya…,” sambutnya dengan sebuah tekanan pada kata ‘AMATI’.
   Seminggu kemudian, pada satu kesempatan saya MENAGIH HUTANG kepada TEMAN SAYA YANG LAIN, yang bekali-kali MANGKIR.  Karena jumlah uang itu cukup besar, saya sudah gunakan berbagai cara agar uang itu bisa kembali lagi kepada saya. Tapi hasilnya tetap nihil.
   Ketika hal itu saya ceritakan kepada TEMAN SAYA (yang menjadi topik dari tulisan ini),  dia tak bereaksi apa-apa selain berkata, “Mari kita AMATI terus ya….”
   Sebulan pun berlalu. Teman saya yang berhutang kepada saya cuma memberikan JANJI DAN JANJI, tanpa memberikan UANG sepeser pun.  Mengetahui hal itu, TEMAN SAYA YANG BIJAK berkata kepada saya, “Sudahkan engkau memberikan KEMUDAHAN kepada dia untuk dapat MENCICIL HUTANGNYA?”
   “Sudah,” sahutku. “Tapi tampaknya dia memang tak punya kemampuan untuk membayar hutangnya.”
   “Dia jatuh miskin?”
   “Ya begitulah.”
   “Tahu begitu kenapa kamu tidak MENGIKHLASKAN saja uangmu itu…?” sahut TEMAN SAYA dengan intonasi lebih berat pada kata MENGIKHLASKAN.
   Aku tercenung. Mengikhlaskan…??? Pada sejumlah uang yang cukup besar…???
   “Kamu pernah berkata kepadaku bahwa  DALAM HIDUP INI kamu hanya punya 1 keinginan, yaitu: DIBERI KEMUDAHAN DALAM SEGALA HAL…,” lanjut TEMAN SAYA.
   “Ya, memang begitu kenginanku,” sahutku.
   “Coba pahami kata-kataku ini: Jika engkau menginginkan KEMUDAHAN, engkau HARUS TAHU DAN MEMAHAMI APA DAN BAGAIMANA KEMUDAHAN ITU BISA TERJADI.”
   “Maksudmu?”
   “Bukankah engkau sudah tahu bahwa ENGKAU HANYA AKAN MEMETIK APA YANG TELAH ENGKAU TANAM SAJA. Jika engkau MEMBERIKAN KEMUDAHAN KEPADA ORANG LAIN, BUKANKAH  KEMUDAHAN JUGALAH YANG AKAN KAU DAPATKAN…?”
   Aku diam tercenung.
   “Dengan MENGIKHLASKAN hutang itu, bukankah engkau telah MEMBERI KEMUDAHAN KEPADA ORANG LAIN. Dan… CEPAT ATAU LAMBAT, ENGKAU PASTI AKAN MENDAPAT KEMUDAHAN PULA. Ingat pula, TIDAK ADA YANG SIA-SIA DI JALAN KEBAIKAN.
   Dan aku pun mengangguk mengerti.

   Sahabatku semua…,  pada awalnya memang sulit MEREALISASIKAN KATA IKHLAS. Begitu pula dengan saya. Tapi seiring berjalannya waktu, ketika kita telah bisa MEMETIK BUAH dari BENIH IKHLAS yang telah kita tanam, maka IKHLAS itu akan menjadi bagian tak akan bisa kita pisahkan dari PERJALANAN HIDUP KITA.  Ketika kita MENGIKHLASKAN SESUATU,  ternyata itu adalah JALAN KITA UNTUK MENDAPATKAN KEMUDAHAN DALAM SEGALA HAL.

   By: Susilo Pranowo

Senin, 30 Januari 2012

KENAPA SETAN BEGITU HEBAT?


   Siang itu Bendol mengajakku menengok Amir yang DITAHAN polisi karena kasus NARKOBA.  Amir, aku, dan Bendol adalah TEMAN KARIB sejak anak-anak.  Jadi, aku tahu benar tabiat kedua temanku itu. Bendol adalah seorang figur sahabat yang  BAIK HATI dan sangat OPTIMIS memandang hidup. Sementara, Amir juga tak kalah baik hatinya. Ia berasal dari kelurga yang AGAMIS. Hanya sayang, akhir-akhir ini ia sering terkena MASALAH.  Terakhir kudengar USAHANYA KACAU, lalu  bahtera RUMAH TANGGANYA TERHANTAM BADAI,  hingga kini terpaksa ia mendekam di HOTEL PRODEO karena SABU-SABU.
   “Aku KASIHAN melihat nasib Amir…,” kataku saat aku dan Bendol sudah meluncur pulang.
   “Amir sedang NGUNDUH WOHING PAKARTI,” sahut bendol.  “Ada baiknya dia  mendekam di penjara. Dia memang harus menebus KARMA BURUK-nya.”
   “Kenapa ada KARMA BURUK? Bukankah manusia hanya sebagai OBYEK PENDERITA? Bukankah BIANG KEROK semua ini adalah SETAN?”
   Bendol tersenyum tipis.  “Setan itu tidak ada. Tapi kalau memang setan itu ada, maka justru SETAN-lah yang dijadikan KAMBING HITAM manakala MANUSIA tidak mampu MENGENDALIKAN HAWA NAFSU-nya.”
   “Kenapa GODAAN SETAN BEGITU HEBAT yah…?”

   “Ketahuilah bahwa DUNIA DAN SEISINYA ini adalah HAMPARAN ENERGI. Ada energi yang TAK TERLIHAT (INVISIBLE) dan ada energi yang TERLIHAT (VISIBLE). Salah satu PRINSIP ENERGI adalah ENERGI INVISIBLE lebih berkualitas dibanding ENERGI VISIBLE. Semakin tak terlihat, semakin kuat energi itu. FISIKA QUANTUM menjelaskan bahwa ENERGI VISIBLE berasal dari ENERGI INVISIBLE. Sesuatu yang TERLIHAT itu BERASAL dari yang TAK TERLIHAT.”
   “Lalu…?” tanyaku tak mengerti.
   “Itulah kenapa MANUSIA SERING KALAH BERPERANG MELAWAN SETAN, karena setan bisa dengan jelas melihat MANUSIA. Setan mampu menyerang manusia  dari kanan, kiri, depan dan belakang. MANUSIA tak bisa  MELIHAT sepak-terjang setan. Manusia mudah terkalahkan karena pertarungan memang  TAK SEIMBANG.  Invisible  melawan visible. Yang visible tentu mudah KO. “
    “Agar PERTARUNGAN menjadi ADIL DAN SEIMBANG bagaimana caranya?”  aku makin tertarik mendengar URAIAN LOGIS Bendol.
   “Caranya gampang saja,” jawab Bendol singkat. Ia mematikan AC mobil. Lalu menyalakan sebatang rokok.
   Aku menunggu beberapa lama, tapi Bendol tak juga melanjutkan pembicaraan. “Gimana. Ndol? Cara gampang yang bagaimana…?” tanyaku tak sabar.
    “Ya, jadikan pertarungan itu menjadi  INVISIBLE MELAWAN INVISIBLE.”
    Aku mengangguk bloon.
   “Jika pertarungan sudah demikian,  maka manusia bisa PUNYA PELUANG UNTUK MENANG,” lanjut Bendol , mengisap rokoknya dalam-dalam.
   “FAKTOR SULIT-nya adalah bagaimana cara MANUSIA agar punya KEKUATAN INVISIBLE itu…,” aku garuk-garuk kepala.
   “Itu juga gampang…,” sergah Bendol enteng.
   “Ah, masa?”
   “Energi invisible MANUSIA yang bisa digunakan untuk MELAWAN energi invisible SETAN  adalah…. Ehm, banyak sekali….”
   “Contohnya apa?”
   “Contohnya?  Hehehe…. Masa gak tahu?”
   “Jangan bikin aku penasaran dong….”
   “Kamu pasti SUDAH TAHU, hanya KURANG MENYADARINYA saja.”
   “Apa itu?”
   “Kekuatan invisible manusia itu adalah DOA, RASA SYUKUR, KESABARAN, KEJUJURAN,  HATI YANG BERSIH DAN PENUH CINTA KASIH,  SELALU BERPIKIR POSITIF. Coba kamu sebutkan yang lainnya….”
   “SHOLAT, DZIKIR, PUASA, ZAKAT DAN SEDEKAH….”
   “Betul! Tuh ternyata otakmu encer juga kan? Hehehe….”
   Tiba-tiba Bendol menghentikan laju mobilnya di depan sebuah warung.
   “Kebanyakan ngomong jadi lapar,” katanya.
   “Benar juga, “ timpalku. “Kali ini aku yang traktir yah!”
   “Memang itu mauku! Jangan lupa nanti NASI BEBEK-nya dibungkus 4. PECEL LELE-nya juga 4…. Buat yang di rumah. Hehehe….”
    “Semprul kau!”
   “Gak pakai semprul… Sambalnya disisihkan saja. Hehehe….
   Dan.., kami pun makan sekenyangnya. Sayang…, Amir tak bisa ikut menikmati NASI BEBEK atau PECEL LELE. Sayang…, Amir telah KALAH BERTARUNG MELAWAN SETAN.

By: Susilo Pranowo





Rabu, 25 Januari 2012

HIDUP ITU BEGINI DAN BEGONO


   Hari ini aku suntuk. Aku jenuh.  KEMARIN hidupku BEGINI. SEKARANG ya BEGINI. Besok apakah ya BEGINI-BEGINI juga…???
   Selagi aku merenung, tampak olehku sebuah mobil sedan warna hitam berhenti dengan halusnya. Yang keluar ternyata Bendol. Wah, mobil baru lagi rupanya, pikirku.
   “Kenapa air mukamu tampak keruh begitu?” tegur Bendol setelah kupersilakan duduk.
   “Aku BOSAN dengan hidup yang begini-begini terus…,” ungkapku jujur.
   “Terus maumu gimana?”
   “Itulah repotnya…, aku sendiri juga gak tahu, biar hidup tidak BEGINI-BEGINI SAJA, aku harus BAGAIMANA…?”
   “Biar hidup gak BEGINI…, ya harus BEGONO. Hehehe….”
   Aku tahu Bendol bercanda, tapi kali ini aku tak dapat melihat ada kelucuan dalam candanya. Saat Bendol menawarkan rokok, aku masih diam tak bersemangat.
   “Ketahuilah…,” ucap Bendol sembari menghembuskan asap rokoknya pelan. “Apa yang tengah kau alami ini adalah sesuatu yang WAJAR. Berjuta-juta orang MENJALANI HIDUP INI hanya sebagai RUTINITAS. Dimana sesuatu yang BERSIFAT RUTINITAS pada akhirnya pasti akan masuk pada KUBANGAN KEBOSANAN.”
   “Iya nih…, aku memang bosan dengan semua rutinitas.”
   “Itu karena engkau belum memahami MAKNA HIDUP yang sebenarnya.”
   Ucapan Bendol mulai serius.
   “HIDUP  adalah TERANG atau BERCAHAYA.  Dan karena hidup adalah terang, maka FUNGSI TERANG adalah MENERANGI YANG GELAP. Hidup bukan SEKADAR TANDA. Hidup punya makna… BERFUNGSI ATAU TIDAK. Oleh karenanya, HIDUP itu JANGAN DIPAKAI SENDIRI.”
   Aku diam, mencoba memahami ucapan Bendol.
   “ Secara fisik, hidup itu DITANDAI  adanya  SI AKU dengan adanya NYAWA , PERASAAN, dan lain-lain tanda hidup. Tapi jika seseorang masih punya dendam,  benci, marah, dan semua perasaan yg tidak enak lainnya…,  artinya ia dalam kondisi tidak hidup. Semua perasaan NEGATIF itu adalah sama artinya dengan TIDAK ADANYA TERANG.”
   “Ah, kata-katamu itu malah membuatku bingung, Ndol…,” sergahku tolol.
   Bendol  menghidap rokoknya dalam-dalam. Ia seperti mencari kata-kata yang lebih gampang kumengerti.
   “Kamu tahu bila TUGAS manusia di dunia ini adalah untuk BERKAWRUH DAN LAKU,  bukan? Setelah manusia BERKAWRUH, maka ia akan menjadi WERUH atau MENGERTI. Dan ketika ia telah menjadi WERUH, maka ia akan DIKENAL. Kalau sudah dikenal, maka akan muncul PANGGILAN. Lalu PANGGILAN inilah yang kemudian  jadi acuan untuk MENGIKUTI GUSTI  atau ber-LAKU.”
   “Ada kalimat yang lebih sederhana gak ya…?” aku garuk-garuk kepala.
   Bendol mengerutkan kening. “Gini aja deh…,” lanjutnya.  “Gusti punya kemauan apa terhadap HIDUP MANUSIA? Ada 2 jawaban, yaitu: 1. Kita harus BERKEBENARAN, melihat KEBENARAN, dan membuktikan KEBENARAN. 2. Manusia harus berkawruh dan laku….”
   “Bisa disederhanakan lagi…?  Hehehe…. Maaf ya…, kamu tahu kan, Ndol… aku memang MANUSIA BOTOL…  bodoh dan tolol. Hehehe….”
   Ganti Bendol yang garuk-garuk kepala.
   Setelah berpikir agak lama, katanya kemudian, “Sesuatu yang hidup itu harus  BERCINTA-KASIH dan WELAS ASIH.”
   “Oooo… Lalu…?”
   “Agar hidupmu tidak BEGINI-BEGINI TERUS, kamu harus BEGONO.”
   “Maksudnya?”
   “Ya kamu MAKNAI HIDUPMU dengan BERCINTA KASIH terhadap SESAMA,. Tentu saja dengan sikap yang WELAS ASIH. Dari situ engkau akan memperoleh SESUATU YANG LAIN, sesuatu yang tidak BEGINI-BEGINI SAJA. Ingatlah bahwa engkau AKAN MENUAI APA YANG TELAH ENGKAU TANAM. Pada saat engkau sedang MENUAI itulah maka  HIDUPMU TELAH MENJADI BEGONO alias TIDAK BEGINI LAGI.”
   “Oooo….”
   “Oooo apa?”
   “Kalau aku ber-cinta kasih terhadap semasa manusia, maka HIDUPKU akan TAMPAK INDAH dan PENUH MAKNA…? Jadi, tidak begini-begini terus?”
   “Ya, benar begitu,” tukas Bendol. “Ah, soal HIDUP YANG BEGINI AGAR MENJADI BEGONO…  dibahas lagi nanti saja. Aku ke sini sebetulnya mau mengajakmu iku menyelesaikan proyekku yang belum kelar.”
   Mendengar kata PROYEK, mataku langsung berbinar.
   Tak berapa lama kemudian, aku dan Bendol sudah meluncur di jalan. Namun  di sepanjang jalan itu, aku terus mencoba MENGERTI DAN MERESAPI ucapan Bendol. HIDUP AKAN MENJADI INDAH DAN PENUH MAKNA bila kita benar-benar bisa BERCINTA KASIH TERHADAP SESAMA.
   Ah, semoga aku bisa menjadi yang demikian.

By: Susilo Pranowo

  




Senin, 23 Januari 2012

MENS SANA IN CORPORE SANO


   Kalimat di atas tentu sudah tak asing lagi bagi kita semua.   Berasal dari sebuah mahakarya seorang pujangga Romawi  yang artinya: DI DALAM TUBUH YANG KUAT TERDAPAT JIWA YANG SEHAT. Tapi benarkah begitu…???  Bagaimana kalau saya balik… DI DALAM JIWA YANG SEHAT TERDAPAT TUBUH YANG KUAT…???
   Diakui atau tidak, memang ada KORELASI antara KESEHATAN RAGA dengan KESEHATAN JIWA. Mari kita TELAAH beberapa CONTOH KASUS di bawah ini.
1.       Para  PEMUKA AGAMA atau ROHANIWAN atau kaum SPIRITUALIS  bisa jadi sangat minim melakukan OLAH RAGA  untuk mendukung KESEHATAN FISIK.  Tetapi secara mental dan kejiwaan mereka  SANGAT SEHAT dibanding kita yang masih awam.  Jiwa mereka sehat karena mereka bersih dari NODA HATI dan KEINGINAN RAGAWI.  Pribadi mereka terlalu halus untuk menyakiti sesama, baik dengan ucapan, tutur kata maupun dengan perbuatan.   KESEHATAN JIWA  mereka inilah yang kemudian merefleksi ke dalam KESEHATAN RAGA mereka.
2.       Kita perhatikan pula, para PEMIMPIN PERUSAHAAN  papan atas atau para  CEO (Chief Executive Officer). Karena KESIBUKAN, mereka  tidak lagi punya waktu untuk melakukan OLAH RAGA.  Tetapi hanya melakukan aktivitas MEDITASI dan RELAKSASI. Dan dari AKTIVITAS inilah, mereka mendapat PIKIRAN JERNIH, IDE YANG CEMERLANG, KEPUTUSAN YANG AKURAT, dan juga… KESEHATAN FISIK!

   Sahabatku semua….
   Menilik dari 2 contoh kasus di atas, mana yang benar….  DI DALAM TUBUH YANG KUAT  TERDAPAT JIWA YANG SEHAT  atau… DI DALAM JIWA YANG SEHAT TERDAPAT TUBUH YANG KUAT…???
   Hehehe…. Apapun jawaban Anda, itu tidaklah penting.  Saya hanya ingin menekankan bahwa  KITA HARUS TERUS MENJAGA KESEHATAN JIWA KITA.  Karena, dari KESEHATAN JIWA inilah kita akan MENJADI MANUSIA SEUTUHNYA, yang sehat JIWA DAN RAGA.
   Saya punya  1 CARA SEDERHANA UNTUK MENJAGA KESEHATAN JIWA SEKALIGUS MENJAGA KESEHATAN RAGA, yang mungkin ada baiknya Anda coba. Dan bagi praktisi yang LEBIH MUMPUNI bisa ikut membagikan sebagian KAWRUH-nya di sini. 
   Cara yang sederhana itu adalah:
1.       Duduklah bersila dengan punggung tegak.  Kedua pergelangan tangan di luruskan ke depan, menyentuh lutut, dengan telapak tangan terbuka ke atas. Lalu ucapkan doa sesuai keyakinan Anda.
2.       Dalam posisi seperti itu, buat tubuh Anda se-RILEKS mungkin. Atur napas perlahan. Tarik, tahan sebentar, hembuskan. Demikian seterusnya.
3.       Bayangkan bahwa  ALAM SEMESTA ini dipenuhi  ENERGI KESEHATAN. Kemudian bayangkan pula bahwa ENERGI KESEHATAN itu dapat Anda serap masuk ke dalam telapak tangan Anda. Perlu diingat di sini, Anda harus TETAP DALAM KEADAAN RILEKS.
4.       Saat energi kesehatan itu sudah cukup Anda serap, salurkan ke seluruh tubuh dengan perlahan. BAYANGKAN  dan RASAKAN adanya energi  yang terus mengalir  dan membuat JIWA-RAGA Anda menjadi SEHAT.
5.       Cara di atas sebaiknya Anda lakukan rutin setiap hari. Anda bisa melakukan mulai dari 5 menit (bisa dengan memasang alarm) di minggu pertama. Dan untuk minggu-minggu  selanjutnya pastikan waktunya ada penambahan.
  
   Mari kita pelihara KESEHATAN JIWA untuk memperbaiki KUALITAS HIDUP KITA.
   Siapa yang bersungguh-sungguh, akan menemukan yang dicarinya.

By: Susilo Pranowo

LAKONE MENANG KERI


    Kemarin salah seorang sahabat saya BERKELUH-KESAH kepada saya. Bahwa hidup yang dijalaninya ternyata amat sulit. Banyak aral yang menghadang. Berkelok dan berliku, penuh KUBANGAN DALAM.  Dan ia pun telah mencoba untuk IKHLAS DAN TAWAKAL…, namun belum tampak juga SINAR PENUNJUK JALAN yang muncul di hadapannya.
   PERSOALAN HIDUP  yang sedang dihadapi sahabat saya itu memang  DAHSYAT.  Dari SEJUTA  ORANG belum tentu ada SATU yang sanggup menjalaninya, TERMASUK SAYA SENDIRI.
   Sahabat saya ini juga sudah mencoba berbagai cara. BERKONTEMPLASI, BERMEDITASI… bertanya kepada DIRINYA SENDIRI, juga BERKONSULTASI pada orang-orang yang dianggapnya LEBIH TINGGI tingkat KAWRUH DAN LAKU-NYA.
   Namun apa hasilnya?
   Hingga…, malam kemarin, teman saya mengambil satu kesimpulan yang sungguh MENGEJUTKAN SAYA. Katanya, ”Sebenarnya Allah itu ada atau tidak? Katanya, kalau kita BERBUAT BAIK, HASILNYA PASTI BAIK JUGA… Tapi kenyataannya?  Prettt..! Saya jadi tidak percaya Allah itu ada!”
   Lalu katanya lagi, “Kenapa orang SALAH YANG MENANG. Apakah  itu mengartikan bahwa ALLAH KALAH TERHADAP SETAN…? Andai ada JIN ATAU SETAN yang bisa MENEGAKKAN KEBENARAN  aku pasti akan memeliharanya!”
  
   Sahabatku semua….
   Jalan hidup manusia itu membentang jauh ke depan. Andaikata jalan ini diberi angka 10, sudahkah kita menyadari bahwa perjalanan hidup kita yang SEKARANG INI baru sampai pada angka 3 atau 4, atau mugkin 5…? Itu artinya, kita masih punya LANGKAH UNTUK MENAPAKI jalan kehidupan kita hingga akhirnya mentok (sampai)  pada angka 10.

   Saya PENYUKA FILM ACTION. Dari zaman film layar lebar masih berjaya, hingga kini hanya sebagai PENIKMAT FILM ACTION layar kaca saja. Ada satu FALSAFAH SAKTI yang bisa saya petik dari semua film action yang telah saya tonton, bahwa  SANG TOKOH UTAMA SELALU MENANG DI AKHIR CERITA. Kalau dalam bahasa Jawa dikatakan… LAKONE MENANG KERI.
   Dari falsafah sederhana  namun bagi saya bisa jadi AMAT SAKTI itu, saya selalu memberikan SUGESTI PADA DIRI SAYA SENDIRI bahwa ketika saya dalam KONDISI KALAH atau DALAM KEKALAHAN,  pada akhirnya saya tetap akan MENANG, selama saya masih berada DALAM KORIDOR KEBENARAN. Dan saya pun akan menyadari bahwa saya sedang NGUNDUH WOHING PAKARTI, menuai hasil dari apa yang telah saya perbuat.  Lalu…, segala sesuatu YANG KITA UNDUH pada akhirnya akan HABIS juga, bukan? Jika kita sedang menebus KARMA BURUK, tetap sadari bahwa itu ADALAH JALAN  untuk MEMBERSIHKAN DIRI KITA.
   Lalu… bagaimana kita bisa mempercepat PENEBUSAN KARMA BURUK KITA..??
   Ya banyak-banyaklah membuat KARMA BAIK!
   Dan selalu sadari bahwa… LAKONE MENANG KERI!

By: Susilo Pranowo