Rabu, 28 Desember 2011

ORANG BODOH TERNYATA PANDAI


    Dua orang lelaki PEMANCING tiba-tiba hanyut terbawa arus sungai yang deras. Dengan susah payah akhirnya mereka mampu meraih sebatang kayu besar yang turut hanyut. Jam demi jam berlalu. Mereka masih terus terbawa arus.
   “Apakah engkau punya keahlian khusus?” tanya salah seorang dari pemancing, bernama Alex.
   “Tidak. Aku hanya orang bodoh,” jawab pemancing yang satunya, bernama Geyol.
   “Ah, bagaimana kau bisa hidup bila tidak punya keahlian khusus?” ungkap heran Alex. “Aku seorang dokter.  Mungkin aku tak bisa hidup andai aku bukan seorang dokter….”
   “Ah masa?” sahut Geyol. “Tuhan itu maha adil.”
   “Itu cuma ungkapan saja.  Apakah engkau pernah belajar di perguruan tinggi?”
   “Tidak.  Sekolahku rendah. Aku cuma bisa membaca dan menulis.”
   “Itu artinya ilmu pengetahuan tidak engkau miliki. Dan jika manusia TIDAK MEMILIKI ILMU PENGETAHUAN sama artinya dengan KEHILANGAN 50%  HIDUPNYA.”
   “O… begitu,” Geyol mengangguk-angguk.
   “Apakah engkau pernah belajar ilmu agama?” tanya Alex lagi.
   “Tidak. Tapi aku bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak.”
   “Hehehe…,” Alex mengejek. “ORANG YANG TIDAK PERNAH BELAJAR ILMU AGAMA sama artinya dengan KEHILANGAN 50%  HIDUPNYA.”
   Geyol tercenung sejenak, lalu katanya, “Kita sekarang ini sedang terhanyut di sungai. Apakah engkau yakin ILMU PENGETAHUAN DAN ILMU AGAMA akan bisa menolongmu keluar dari keadaan ini?”
   Ganti Alex yang tercenung.
   “Andai aku mau…,” lanjut Geyol.  “Aku bisa meninggalkanmu sedari tadi. Aku bertahan di sini karena aku ingin menemanimu… dan kalau kau akan tenggelam, aku masih bisa menolongmu.”
   “Sungguhkah itu?” Alex terheran. “Ilmu apa yang engkau miliki… sehingga engkau bisa terlihat amat tenang dan yakin…”
   “Bukan ilmu yang kumiliki. Hanya keterampilan BERENANG saja. Dan andai aku tidak menjagamu dengan keterampilan berenangku…., bisa jadi engkau akan KEHILANGAN 100%  HIDUPMU.”
   Mendengar kata-kata itu, Alex segera menyadari kesombongannya.

   Sahabat, janganlah kita MEREMEHKAN ORANG BODOH.  Karena ORANG BODOH PUN MEMILIKI KEPANDAIAN DI SISI LAIN. Sementara kita yang MERASA TELAH PANDAI, JUGA PUNYA KEBODOHAN DI SISI LAIN.
   Marilah kita HIDUP SALING MENGASIHI.
   Jangan pernah MERASA DIRI LEBIH PANDAI DIBANDING ORANG LAIN.

   By:  Susilo Pranowo


CARA MENYIKAPI CINTA


   Hari ini aku jatuh cinta.  Efeknya sungguh LUAR BIASA.  Jari-jari tanganku seakan punya mata. Bergerak menekan tuts-tust keyboard begitu LINCAH TANPA LELAH. Dan cerita-cerita pun bergulir muncul  laksana air bah bebas tertumpah.
   “Duh… yang lagi jatuh cinta…,” goda  Setan dalam hatiku.
   “Jangan campuri urusan orang…,” sergah Malaikat dalam hatiku.
   “Emang gak boleh! Suka-suka gue dong!”
   “Perasaan orang yang lagi jatuh cinta itu sensitif tauuu…! Jangan buat orang jadi marah….”
   “Biarin… emang itu mauku!”
   “Dasar setan!”
   “Emang aku setan! Elo aja yang sok baik. Elo munafik!”
   Percakapan dalam hatiku itu terhenti sejenak. Tapi kemudian  Setan berkata kepadaku, “Hai, Susilo! Kalo emang kamu cinta…. ya sana buru cintamu itu. Apapun caramu! Jangan pedulikan apapun! DIRI KAMU SENDIRILAH yang bisa mewujudkan KEBAHAGIAANMU…!”
   Lalu Malaikat menimpali, “Jangan gegabah, Susilo! Cinta itu tak harus memiliki. Biarkan itu jadi indah dalam angan dan pikiranmu. Ketika kau BERUSAHA MEMILIKI… itu sama artinya kau juga sedang menggali lubang RASA KECEWA. Kau akan terperosok dalam DUKA NESTAPA. Bukankah kau tak ingin HATIMU TERLUKA…????
   Aku tercenung.
   “Jangan jadi manusia munafik, Susilo…!” kata Setan lagi. “Cinta memang tidak harus memiliki. Tapi sungguh KEBAHAGIAAN  akan dapat kau raih apabila kau MEMILIKI ORANG YANG KAMU CINTAI.”
   “Ah, itu cuma teori…,” sahut Malaikat. “Saat kamu BERUSAHA MEMILIKI…. JURANG KESEDIHAN DAN KEKECEWAAN itu semakin dalam untuk membuatmu TERJUNGKAL. “
  
   “Lalu apa yang harus kuperbuat?” tanyaku tak mengerti.
   “Kejar cintamu dengan segenap kemampuanmu!” jawab Setan.
   “Serahkan pada Tuhan.  Dia tahu apa yang terbaik bagimu,” jawab Malaikat.
   Dan…. Jari-jari tanganku terus menari di atas keyboard.
   Dan… selesailah ceritaku ini.
   Dimana aku telah menemukan…. Cara menyikapi CINTAKU INI.

   By: Susilo Pranowo
   (Untuk seseorang yang aneh)
  

Selasa, 27 Desember 2011

JANGAN JADI KATAK DALAM TEMPURUNG

   Amir adalah seekor KATAK. Senang rasa hatinya saat ini karena ia telah telah terbebas dari TEMPURUNG yang memenjarakannya. Ia melompat-lompat dengan sangat gembiranya. Tapi lompatannya segera tehenti manakala melihat Tugimin , yang juga seekor katak.
   “Hai kawan…, sungguh kau melompat amat tinggi…,” kata Amir heran. “Apakah engkau punya imu khsusus… sehingga engkau bisa melompat begitu tinggi?”
   “Tentu tidak…,” jawab Tugimin. “aku tidak punya ilmu apa-apa.”
   “Ah, masa? Usia kita.., besar tubuh kita…, aku kira sama. Tapi kenapa lompatanmu jauh lebih tinggi dariku?”
   “Tidak ada yang istimewa dalanm diriku, Sobat. Coba kau temui semua bangsa katak. Tentu engkau akan tahu bahwa lompatanku adalah sesuatu yang wajar…, tanpa rekayasa…!”
   Amir pun berlalu meninggalkan Tugimin. Ia perhatikan semua lompatan katak di sekitarnya. Ternyata mereka semua memang mampu melompat jauh lebih tinggi darinya.
   Sampai akhirnya, Amir berpikir… , “Aku telah hidup sekian lama dalam tempurung. Mungkin tempurung itulah yang membuat LOMPATANKU TIDAK BISA TINGGI seperti KATAK YANG NORMAL…

   Sahabat, bila kita cermati cerita di atas…, berapa banyak manusia yang tidak menyadari bila hidupnya tak lebih baik dari KATAK DALAM TEMPURUNG. Ego yang berujung fanatisme adalah PENJARA BAGI PIKIRAN. Faham sempit sekuler adalah BUNGKUS SEMU YANG MENGISOLASI PENGETAHUAN BARU.
   Fahamilah… bahwa HIDUP TERUS BERJALAN.
   HIDUP PERLU PERUBAHAN.
   MAKA, JANGAN JADI KATAK DALAM TEMPURUNG.

By: Susilo Pranowo

Sabtu, 24 Desember 2011

RAHASIA MENJADI KAYA (bagian 3)

   Nenek masih sibuk di dapur. Amin sengaja tak keluar rumah meski pada jam-jam itu biasanya ia pergi bermain. Ada sesuatu yang ingin ia sampaikan.
   “Nek…,” katanya saat sang nenek telah selesai mengerjakan tugas hariannya.
   “Ya, ada apa, Cucuku?”
   “Kemarin ayah Tono beli mobil baru….”
   “Emang kenapa?  Ayah Tono kan orang kaya, wajar dong kalau dia beli mobil.”
   “Ya iyalah Nek, Amin juga tahu. Tapi baru minggu kemarin ayah Tono beli mobil, masak beli mobil lagi?”
   “Lho, apa salah kalau orang kaya punya mobil dua? Orang kaya punya mobil sampai sepuluh pun, tak ada yang melarang….”
   Berkerenyit hidung amin. Lalu katanya dengan masih dengan nada heran. “Minggu kemarin Amin melihat ayah Dodo menjual sepedanya. Kata Dodo, ayahnya terpaksa menjual sepeda untuk membayar hutang . Tapi tadi, amin melihat Bu Safii marah-marah pada ayah Dodo. Tampaknya ayah Dodo punya hutang pada Bu Safii dan belum bisa membayarnya….”
   “Lalu kenapa dengan ceritamu itu, Cucuku?” sambut sang nenek.
   “Sepertinya kehidupan ayah Tono dan ayah Dodo sangat bertolak belakang. Si kaya dan si miskin. Dan tampaknya…, yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.”
   Sang nenek tersenyum, “Allah maha kaya. Kamu meyakini itu, Cucuku?”
   Amin mengangguk.
   “Jika kamu membuat mainan atau apapun yang merupakan buah dari pikiran dan keterampilanmu, tentu kamu menginginkan yang terbaik, bukan?”
   “Tentu saja, Nek.”
   “Kira-kira seperti itulah perumpamaannya. Allah tidak menghendaki makhluk ciptaannya hidup sengsara. Jadi kalau ada manusia yang hidupnya miskin atau susah, itu sama sekali bukan kehendak Allah.”
   “Tapi bagaimana dengan ayah Dodo yang miskin itu, Nek?”
   “Allah maha kaya. Kamu tetap meyakini itu kan?”
   Amin mengangguk lagi.
   “Karena Allah maha kaya, lagi maha pemurah, juga maha pengasih dan penyayang, maka hanya kepada Allah-lah  seharusnya manusia meminta.”
   “Ayah Dodo sangat rajin beribadah. Dia pasti tahu apa yang Nenek katakan itu,” sahut Amin protes.
   “Ada dua tipe manusia beribadah. Pertama, manusia yang ibadahnya hanya berdasar syariat tanpa tahu hakikatnya. Pendek kata, manusia jenis ini hanya menjalankan ibadah tanpa tahu makna beribadah. Jadi, ibadahnya hanya sekadar melepas kewajibannya saja….”
   “Yang kedua, Nek?” amin mulai terlihat tak sabaran.
   “Kedua, manusia yang beribadah dengan benar. Manusia tipe ini tahu dan paham makna dan tujuan beribadah. Ia mengerti hakikat beribadah. Ibadahnya muncul dan tumbuh dari dalam kalbunya, bukan sekadar melepas kewajiban. Lebih dari itu, ia bisa merasa ibadahnya adalah kebutuhannya. Ia merasa dekat dengan Allah. Dan yang terjadi pun memang demikian…. Allah sangat dekat dengan manusia yang ibadahnya termasuk tipe ini.”
   “Lalu karena dekat dengan Allah, maka semua doa terkabulkan. Begitu, Nek?”
   “Kurang-lebihnya begitu.”
   “Lho kok kurang-lebih, Nek? Berarti belum pasti?”
   “Ini bukan masalah pasti atau belum pasti.”
   “Maksudnya, Nek?”
   “Orang yang  ibadahnya benar, kalau ia minta kaya, tidak serta-merta Allah akan memberinya kekayaan…. Allah maha tahu. Allah tahu apa yang terbaik bagi umat-Nya.”
   “Jadi kalau ada orang minta kaya, Allah tidak langsung memberi karena Allah tahu orang itu belum saatnya menjadi kaya. Apa kira-kira begitu, Nek?”
   “Bisa jadi begitu. Tapi tidak pasti begitu….”
   Amin jadi bengong.
   “Ini ada hubungannya dengan karma.”
   “Apa itu karma, Nek?”
   Belum sempat sang nenek menjawab, tiba-tiba pintu diketuk dari luar.
   “Oh, itu Bu Wakilah. Nenek ada janji dengannya.” Sambut sang nenek seraya membukakan pintu.
   “Nenek belum menjawab pertanyaan Amin….”
   “Besok saja, Cucuku. Nenek ada kepentingan dengan Bu Wakilah.”
   Akhirnya sang nenek pergi dengan tamunya itu. Tinggal Amin yang masih terlongong-bengong.
   Apa rahasia kaya?


By : Susilo Pranowo
(bersambung)

RAHASIA MENJADI KAYA (bagian 2)

 
     Di lain kesempatan Amin melihat banyak orang berkerumun di lapangan. Tua-muda, besar-kecil, sama-sama tak mau mengalah. Mereka berjubal dan saling serobot untuk bisa masuk ke tengah lapangan.
     Terdorong rasa ingin tahu, Amin ikut masuk ke tengah kerumunan itu. Apa gerangan yang membuat semua orang begitu antusias?
     Setelah serondol sana serondol sini, sikut kanan sikut kiri, akhirnya Amin berhasil juga ke tengah lapangan. Mengkerut dahi anak ini melihat pamandangan yang terpampang di hadapannya. Seperti layaknya acara peringatan hari kemerdekaan,  di tengah lapangan ditancapkan kokoh batang pohon pinang. Sementara ratusan, atau bahkan ribuan orang berebut untuk bisa naik ke puncak batang pinang.
     Mereka-mereka yang tengah “ikut lomba” itu tampak beringas dan main kasar. Ibu-ibu saling jambak, saling cakar, dan berusaha mencegah ibu-ibu lainnya agar tidak bisa naik ke batang pohon pinang. Yang bapak-bapak bersikap lebih tak manusiawi lagi. Mereka saling jotos, saling tendang, banting sana banting sini. Intinya sama saja, mereka semua saling cegah agar “sang lawan” tidak bisa naik ke batang pohon pinang. Sepertinya mereka menganggap batang pohon pinang itu adalah miliknya, dan hanya dirinyalah yang boleh naik ke puncak batang pinang itu.
     Amin belum begitu paham akan apa yang tengah terjadi.  Dengan bola matanya yang bening penuh keluguan, anak ini dengan jelas melihat apa yang berada di puncak batang pinang. Benda yang manggantung itulah yang diperebutkan oleh orang-orang yang kayaknya sudah lupa daratan itu.
     Di puncak batang pohon pinang menggantung sebuah lempengan logam yang memancarkan sinar berkilauan. Lempengan logam itu cukup besar dan terpahat jajaran huruf  yang terbaca :
K-E-K-A-Y-A-A-N.
     “o, rupanya mereka tengah berusaha mati-matian untuk mendapatkan kekayaan…, “ gumam Amin.
     Dengan penuh lugunya amin kemudian ngeloyor pergi meninggalkan orang-orang beringas itu. Tentu saja ia membawa segudang tanda tanya di benaknya.
     “Ada apa, Cucuku,” tegur sang nenek keesokan harinya. “Kamu kok tampak sedang memikirkan sesuatu?”
     “Nenek…, Amin ingin bertanya?” sahut Amin.
     “Ya, bertanya soal apa?”
     Amin kemudian menceritakan apa yang dilihatnya kemarin itu. Kemudian ia bertanya, “Apakah kekayaan begitu berharganya sampai mereka berebut seolah menghalalkan segala cara, Nek?”
     “Kekayaan memang amat berharga, Cucuku. Bahkan pada sebagian orang, kekayaan bisa jadi lebih berharga dibanding nyawanya sendiri.”
     “Kenapa bisa begitu, Nek?”
     “Dengan kekayaan, segalanya akan jadi mudah. Urusan yang sulit jadi mudah. Yang salah pun bisa jadi benar.”
     “Alangkah hebatnya kekayaan itu, Nek….”
     “Ya, kekayaan memang hebat tiada taranya. Punya kekuatan dahsyat luar biasa. Dan ketahuilah, di dunia ini ada dua macam kekayaan, Cucuku….”
     “Apa saja itu, Nek?”
     “Kaya spiritual dan kaya material. Tapi orang lebih cenderung mengejar kekayaan material.”
     “Ya, Amin tahu, Nek. “
     “Jika besar kelak, apakah kau juga ingin jadi orang kaya, Cucuku?” tanya sang nenek serius.
     Tanpa pikir panjang amin langsung menjawab, “Ya, Nek. Amin ingin jadi orang kaya.”
     “Kaya yang kau maksud tentu kaya dalam arti material.”
     Amin mengangguk pelan.
     “Agar kau nanti tidak disesatkan oleh kekayaanmu, seyogyanya kau kaya spiritual lebih dulu. Tahu maksud nenek?”
     Amin terdiam.
     “Jika kau tidak bisa memperkaya dirimu dengan spiritualisme, kekayaan yang kau dapatkan nanti hanya akan mungubah dirimu manjadi manusia yang meterialistis, egois, dan hedonis.”
     Amin jadi bengong. Apa salahnya manusia ingin kaya?
     Tapi Amin tetap teguh pada pendiriannya.
     Ia tetap ingin jadi orang kaya

By : Susilo Pranowo
Kamis, 28 Juli 2011. Pk. 9.09 PM
(Bersambung}

REZEKI BISA DATANG DARI MANA SAJA


    Pada suatu kesempatan manakala saya sedang menunggu di depan sebuah mall, ada seorang kakek-kakek menghampiri mobil saya seraya menyodorkan telapak tangannya untuk meminta.  Saya ambil selembar uang ribuan, lalu saya sodorkan kepada peminta-minta itu.
   “Terimakasih…, “ katanya, lalu pergi menjauh.
   Saya  masih duduk di belakang setir saat kakek renta itu kembali menghampiri saya.
   “Bapak tidak keliru dengan pemberian Bapak..??” ucap si kakek membuatku tertegun.
   “Keliru bagaimana…?”
   Si kakek memperlihatkan selembar uang limapuluh ribuan di tangannya.
   “Ada apa dengan uang itu?” tanyaku heran.
   “Apakah Bapak tidak keliru ambil?” si kakek balik bertanya.
   “Ah, kurasa tidak, Kek… Tapi… saya tadi memberi selembar uang ribuan….”
   “Tapi yang kuterima selembar uang limapuluh ribuan.”
   Saya bengong sejenak. Saya  ambil dompet di kantong belakang. Saya perhatikan isinya. Ternyata tindakan saya ini tidak ada manfaatnya. Karena saya jarang sekali menghitung isi dompet.
   “Tadi itu ribuan apa limapuluh ribuan ya…?” pikirku ragu.
   “Kalo Bapak tidak yakin, saya kembalikan saja uang ini…,” kata si kakek seperti mengerti jalan pikiran saya.
   “Tapi, Kek….”
   “Ah, sudahlah….”
  Tanpa pernah saya kira, kakek peminta-minta itu meletakkan uang limapuluh ribuan itu di atas dashboard.
   “Eh, Kek… Jangan….!”  cegah saya.
   Tapi kakek  itu malah balik badan, lalu ngeloyor pergi dan menghilang di antara lalu-lalang orang. Untuk beberapa lama saya  bengong. Saya yakin uang yang  saya berikan pada kakek pengemis tadi adalah selembar uang ribuan.  Tapi kenapa bisa berubah jadi limapuluh ribuan? Lalu kenapa pula si kakek pengemis malah mengembalikan uang itu kepada saya?
   Sampai di rumah saya pun tak habis pikir. Namun akhirnya uang itu  saya berikan pada anak yatim yang tinggal tak jauh dari rumah saya.
   Lalu apa yang terjadi kemudian…
   Tak sampai habis hitungan jam dari waktu saya memberikan uang misterius itu ke si anak yatim, HP saya berdering.  Seorang Cina kenalan saya meminta saya untuk datang ke rukonya.  Saya pun meng-iya-kan.
   Orang Cina itu meminta saya untuk membuatkan partisi aluminium di lantai atas rukonya. Nego sebentar…., eh  harga deal pada angka 12 juta. Saya dikasih DP 5 juta!
   Aneh bin ajaib…
    
   Silakan mau percaya atau tidak…..
   Tapi saya yakin…REZEKI TUHAN SELALU TEPAT SASARAN.
   Dan itu… DATANGNYA BISA DARIMANA SAJA.
   Bahkan mungkin dari jalan yang menurut pikiran kita tidak mungkin.

   By: Susilo Pranowo

Rabu, 21 Desember 2011

RAHASIA MENJADI KAYA (bagian1)

 1   Suatu ketika Amin bercerita kepada neneknya, “ Nek, Amin tadi bermain di kampung sebelah selatan. Nenek tahu bagaimana kehidupan orang-orang di kampung itu?”
   “Emangnya kenapa, Cucuku?” sambut sang nenek.
   “Mereka miskin semua, Nek. Hidup mereka susah padahal mereka semua bukan orang malas. Mereka semua bekerja dengan giat dan rajin. Mereka juga tekun beribadah. Amin jadi bertanya-tanya, Nek, kenapa mereka hidup dalam kemiskinan? Apakah Tuhan tak pernah mendengarkan doa mereka?
   Sang nenek masih diam mendengar cerita cucunya itu.
   “Kemarin Amin bermain ke kampung sebelah utara,” lanjut Amin, “Berbeda dengan kehidupan orang-orang di kampung selatan. Semua penduduk kampung utara hidup serba berkecukupan. Padahal mereka bekerja tidak sekeras penduduk kampung selatan. Rumah mereka bagus-bagus. Mereka makan juga yang enak-enak….”
   Sang nenek tetap belum berkomentar.
   “Amin tidak mengerti, mengapa kehidupan orang-orang di kedua kampung itu amat berbeda…. Apa Tuhan tidak adil, Nek?”

   “Tuhan itu maha adil, Cucuku…”
   “Tapi kenapa yang bekerja keras hidupnya terus susah? Sementara yang kerjanya enak-enakan malah hidup dalam kelimpahan?”
   “Sang nenek mengambil napas panjang sejenak. Lalu katanya,”Orang yang tiap hari bekerja keras tidak pasti akan jadi kaya atau berkecukupan. Dan yang kerjanya seperti bermalas-malasan tidak otomatis menjadi miskin atau kekurangan….”
   “Kok bisa seperti itu, Nek?”
   “Ada suatu rahasia yang tidak diketahui orang miskin….”
   “Apa itu, Nek?”
   Amin bertanya penasaran. Tapi sang nenek malah diam, lalu ngeloyor ke belakang. Amin yang tidak bisa menahan rasa penasarannya terus mengekor.
   “Ayolah Nek, apa rahasia itu?” buru Amin.
   Tapi sang nenek terus diam. Walau Amin merengek-rengek minta penjelasan, ia tetap bungkam seribu basa.
   “Nenek jahat!” seru amin jengkel. “Kalau nenek tetap diam, Amin mau pergi dan tak akan pulang!”
   “Jangan… jangan…, Cucuku…,” cegah sang nenek akhirnya.
   “Kalau begitu, Nenek harus menceritakan apa rahasia itu!”
   Sang nenek menarik napas panjang beberapa kali. Lalu katanya dengan suara berat, “ Kalau kamu ingin tahu rahasia menjadi orang kaya, apa kamu sudah siap untuk menjadi orang kaya?”
   Mendengar pertanyaan neneknya itu, ganti Amin yang terdiam.
   “Apakah kamu sudah memiliki mental orang kaya? Apakah pikiran dan tindakanmu sudah pantas untuk disebut orang kaya?”
   Amin makin terdiam.
   Sang nenek pun pergi meninggalkannya.
   Kali ini Amin tidak mengekornya lagi. Tapi dalam benaknya tetap tersimpan sebuah tanda tanya besar : APA RAHASIA UNTUK MENJADI KAYA?

By : Susilo Pranowo
25 Juli 2011, 8.45 PM
(bersambung)

Jumat, 16 Desember 2011

JOKE ANGELINA SONDAKH



Kekasih anggota DPR Angelina Sondakh, Komisaris Polisi (Kompol) Raden Brotoseno kini menganggur. Setelah dikembalikan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ke kesatuannya, Mabes Polri, Broto tidak memiliki jabatan.

Brotoseno adalah perwira menengah polisi yang bertugas sebagai penyidik di KPK. Ia diduga menjalin asmara dengan mantan Putri Indonesia 2001, politisi cantik Partai Demokrat Angelina Sondakh, ketika Angie terjerat kasus dugaan suap pembangunan Wisma Atlet SEA Games di Palembang.

Suatu hari Angie ingin menjenguk kekasihnya. Maka ia memesan nasi catering untuk makan siang sang kekasih. Untuk membesarkan hati kekasihnya itu, Angie berniat menyertakan TULISAN PEMBESAR SEMANGAT pada nasi catering yang dipesannya.
Kepada pemilik usaha catering, Angie berpesan: “Tulis pesan saya… AKU MASIH SEPERTI YANG DULU di bagian atas. Dan… AKU JUGA MASIH SUKA MAIN-MAIN di bagian bawah.  SALAM  MANIS ANGIE”
Singkat kata, nasi catering itu sampailah ke tangan Raden Brotoseno. Tapi alangkah terkejutnya sang pamen di Mabes Polri itu. Manakala membuka nasi catering yang dibawa Angie, ia membaca tulisan:

AKU MASIH SEPERTI YANG DULU DI BAGIAN ATAS.
AKU MASIH SUKA MAIN-MAIN DI BAGIAN BAWAH.
SALAM MANIS ANGIE.

Wajah Angie langsung merah-merona…..
Sabar ya Mbak Angie...
Hehehe…..

By: Susilo Pranowo

Kamis, 15 Desember 2011

TIDAK ADA LELAKI YANG SEMPURNA



   Dalam anganku, aku membuka sebuah toko swalayan yang menjual LELAKI IDEAL. Di depan toko kupasang sebuah banner besar bertuliskan:
TATA TERTIB TOKO:
1.       BARANG YANG SUDAH DIBELI TIDAK BOLEH DITUKAR/DIKEMBALIKAN.
2.       ADA 4 LANTAI DI DALAM TOKO. SETIAP MELEWATI LANTAI TOKO YANG ATAS, ANDA TIDAK BOLEH TURUN LAGI DI LANTAI BAWAHNYA.
3.       PEMBELIAN TIDAK BOLEH DIBATALKAN.
   Pada hari pertama buka, ada seorang wanita cantik datang berkunjung.  Setelah kupastikan dia masih jomblo, maka kucatat semua  data-data dirinya sebagai syarat pembelian.
   Di lantai 1, aku menjual banyak lelaki dengan membawa tulisan AKU LELAKI TAMPAN. Wanita calon pembeli yang bernama Niza, tampak terperangah melihat ketampanan para lelaki itu. Tapi karena terbawa rasa penasaran, dia mencoba naik ke lantai 2.
   “Mbak Niza, saya ingatkan…,” kataku sopan. “Jika nanti Anda ke lantai 2, maka Anda tidak boleh lagi mendatangi lantai 1 ini.”
   “Itu bukan masalah,” sahut Niza cepat.
   Maka sampailah Niza di lantai 2. Di situ telah kusediakan banyak lelaki juga. Mereka membawa tulisan AKU LELAKI TAMPAN DAN KAYA.

   Bukan main gembiranya hati Niza. Matanya langsung berbinar ceria.
   “Lelaki di lantai 2 lebih bagus dari lelaki yang di lantai 1…,” gumam Niza. “Di lantai 3 pasti lebih bagus lagi…”
   “Mbak Niza, saya ingatkan…,” sergahku. “Jika nanti Anda naik ke lantai 3, Anda tidak bisa turun lagi ke lantai 2 atau 1.”
   “Itu bukan masalah, “ sambut Niza yakin.
   “Tapi… masih ada aturan lagi…. Anda tidak boleh menukar barang. Pembelian juga tidak boleh dibatalkan.”
   “Itu juga bukan masalah.”
   Maka dengan penuh keyakinan untuk mendapatkan lelaki idaman hatinya, Niza naik ke lantai 3. Di sana memang sudah kusediakan banyak lelaki yang membawa tulisan AKU LELAKI TAMPAN, KAYA, DAN SAYANG KELUARGA.
   Niza semakin melonjak girang. “Semakin ke atas…, semua lelakinya semakin asyikkkk. Aku ingin ke lantai 4 ah….”
   “Coba pikir dulu, Mbak Niza…,” kataku lembut. “Jangan sampai Anda salah pilih.”
   “Tentu tidak!” sahut Niza sangat yakin.
   Dan…. Sampailah Niza di lantai 4.  Tapi di sana…., sungguh Niza jadi terbelalak matanya. Terlongong bengong macam orang hilang akal….
   Di lantai 4…. Yang kusediakan  hanya SEEKOR MONYET LELAKI membawa tulisan  TIDAK ADA LELAKI YANG SEMPURNA. AKU HANYA MEWAKILI UNGKAPAN…. KEINGINAN YANG TERLALU TINGGI,  JATUHNYA AKAN SANGAT MENYAKITKAN.
   “Selamat, Mbak Niza…,” kataku menahan tawa. “Anda telah membuat pilihan. Silakan bawa pulang MONYET LELAKI pilihan Anda.”
   Terpaksa Niza membawa “jodoh”-nya.
   Dia membatin…,”Awas! Kau Susilo yah…! Tak cipok sehari-semalam mati kowe..!!!!”

By: Susilo Pranowo