Label

Tampilkan postingan dengan label OH TUHAN.... Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label OH TUHAN.... Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Februari 2019

SEKEPING CERMIN PADA MASING-MASING DIRI




Siapa yg pernah belajar TASAWUF tentu mengenal seorang tokoh besar sufi bernama JALALLUDIN RUMI, yg mengatakan bahwa... "Kebenaran adalah SELEMBAR CERMIN di tangan Tuhan, yg telah jatuh berkeping-keping. Tiap orang memungut kepingan itu, lalu menganggap cerminnya adalah kebenaran yg utuh".

Artinya, tiap orang punya " kebenarannya" sendiri-sendiri. Selama cerminnya masih berupa kepingan, maka tak akan pernah ditemukannya "kebenaran sejati"..., kebenaran universal..., kebenaran yg meliputi semua kebenaran..., kebenaran yg tak terbantahkan!

Masalahnya, adakah kebenaran sejati itu? Tentu ada! Dia adalah kebenaran dari keping-keping kebenaran. Orang yg merasa hanya memegang 1 kepingan, tak akan mengukur orang lain dg bajunya. Intinya, jangan melihat keluar, lihatlah dirimu sendiri. Jika engkau terluka, dari luka itulah cahaya akan masuk kedalam.

   Seruput dulu kopinya. Hisap dulu rokoknya.
   Jika mau mengakui bahwa musuh terbesar manusia adalah EGO DAN NAFSU diri sendiri, untuk apa mencari KEKURANGAN orang lain?
   Aku lupa mengucap terimakasihku pada-Mu seperti saat API membakar KAYU menjadikannya ABU. Sekumpulan AWAN lupa bersyukur manakala ANGIN meniup dan merubahnya menjadi HUJAN. Aku menjadikan diriku bermanfaat karena ada TANGAN yg menuntunku menjadi bermanfaat. Bukan diriku yg bermanfaat, melainkan TANGAN itu.

Seruput lagi kopinya. Hisap lagi rokoknya.
Rahayu.

Minggu, 03 Juni 2018

BISAKAH BELAJAR MARIFAT?



Seorang marifat tidak hanya belajar dari buku-buku…, dari petuah-petuah…, karena seluruh alam dan segala isinya adalah guru yg memberikan pelajaran dalam keheningan dan dalam keramaian, baik yg kelihatan maupun yg tak kelihatan. Dirinya adalah bagian dari alam…, adalah alam itu sendiri. Dia tidak besar, tidak juga kecil. Dia adalah bersama… antara ada dan tidak ada.

Seorang  marifat tdk pernah merasa kehilangan… karena setiap saat dia telah menerima.  Dia tidak pernah merasa sakit… karena sakit itu adalah kedemikianan yang ada. Dia tidak sakit hati saat dihina… karena kehinaan itu memang dirinya.

Seorang marifat tidak menghitung-hitung pahala…, tidak merindukan surga…, karena surga bukanlah tempat…, surga adalah suasana…, dan suasana surga itu telah dia ciptakan sendiri dalam hatinya, dalam sikap batinnya…, dalam kesadaran pikir dan roh-nya.

Seorang marifat akan menyelam dalam kedalaman yg  paling dalam. Dia belajar dari pandangan matanya…, belajar dari suara yg menyentuh indera pendengarnya…, belajar dari rasa yg menyentuh kulit… dan yg menyentuh kalbunya. Dia tidak pernah diam…, karena setiap gerak adalah dirinya. Dia lebur dan larut dalan kedemikianan. Dia MENJADI GARAM untuk memberikan rasa pada semua makhluk. Dia hilang… tapi rasa yg diberikannya tetap dapat dirasakan. Dia lebur MENJADI RAGI… lebur dan hilang untuk merubah sifat terhadap apa yg didekatinya.

Seorang marifat melempar jauh KEAKUANNYA… karena dia bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa. Dia adalah bagian yg tanpa bagian. Dia mampu membaca dalam kebutaan…. Mampu mendengar dalam ketuliannya… karena dia adalah RASA.

Glodok, 3 Juni 2018. 6.30 AM
Tetap buanglah sampah di tempatnya.
Jika menanam pohon, terus jaga dan rawatlah.

Minggu, 15 Maret 2015

KESESATAN BERPIKIR

Alkisah, seorang profesor filsafat menantang muridnya: “Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?” Seorang mahasiswa menjawab, “Betul, Dia yang menciptakan semuanya.”

 “Tuhan menciptakan semuanya?” tanya profesor sekali lagi. “Ya, Pak, semuanya,” kata mahasiswa tersebut. Profesor itu menjawab, “Nah, ini ada teka-teki logika untuk kalian. Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti TUHAN MENCIPTAKAN KEJAHATAN. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan.”

 Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab pernyataan profesor tersebut. Seorang mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, “Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?” “Tentu saja,” jawab si profesor. “Itulah inti dari diskursus filsafat.”

 Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, “Profesor, apakah dingin itu ada?” “Tentu saja,” ungkap si profesor. Raut muka si profesor tidak berubah karena ia sudah mendengar argumen buruk seperti ini berulang kali. Si murid menanggapi, “Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.”

 Sang profesor pun menjawab dengan tegas: “Kamu ingat bab mengenai kesesatan semantik dalam bukumu?” Si murid tampak bingung. “Biar saya ulangi secara singkat. ‘Panas’ dan ‘dingin’ adalah istilah subyektif. Menurut John Locke, keduanya merupakan contoh ‘kualitas sekunder’. Kualitas sekunder merujuk kepada bagaimana kita merasakan suatu fenomena yang memang ada, dan dalam kasus ini pergerakan partikel atomik. Istilah ‘dingin’ dan ‘panas’ merujuk kepada interaksi antara sistem saraf manusia dengan variasi kecepatan dalam partikel atomik di lingkungan. Jadi apa yang sesungguhnya ada adalah suhu.

Istilah ‘panas’ dan ‘dingin’ hanyalah istilah subjektif yang kita gunakan untuk menjelaskan pengalaman kita mengenai suhu. “Maka argumen Anda salah. Anda tidak membuktikan bahwa ‘dingin’ itu tidak ada, atau bahwa ‘dingin’ ada tanpa status ontologis, apa yang Anda lakukan adalah menunjukkan bahwa ‘dingin’ adalah istilah subjektif. Hapuskanlah konsep subyektif tersebut, dan suhu yang kita sebut ‘dingin’ akan tetap ada. Menghapuskan istilah yang kita gunakan untuk merujuk kepada suatu fenomena tidak menghapuskan keberadaan fenomena tersebut.”

 Murid: (agak shock) “Uh … oke … em, apakah gelap itu ada?” Profesor: “Anda masih mengulangi kesesatan logika yang sama, hanya kualitas sekundernya yang diganti.” Murid: “Jadi menurut profesor kegelapan itu ada?” Professor: “Apa yang saya katakan adalah bahwa Anda mengulangi kesesatan yang sama. ‘Kegelapan’ adalah kualitas sekunder.” Murid: “Profesor salah lagi. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan di mana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.”

 Profesor: “‘Gelap dan terang’ adalah istilah subyektif yang kita gunakan untuk mendeskripsikan bagaimana manusia mengukur foton atau partikel dasar cahaya secara visual. Foton itu memang ada, sementara ‘gelap’ dan ‘terang’ hanyalah penilaian subyektif kita, yang sekali lagi terkait dengan interaksi antara sistem saraf manusia dengan fenomena alam yang lain, yaitu foton. Jadi, sekali lagi, hapuskanlah istilah subyektif itu dan foton akan tetap ada. Jika manusia menyebut ‘foton sebanyak x’ sebagai ‘gelap’ sementara kucing menyebutnya ‘cukup terang untukku,’ foton sebanyak x yang kita sebut sebagai ‘gelap’ tetap ada, dan akan tetap akan ada walaupun kita tidak menyebutnya gelap. Sudah paham, atau masih kurang jelas?”

 Sang murid tampak tercengang. Sang profesor berkata, “Tampaknya Anda masih bingung dengan kesesatan dalam argumen Anda. Tapi silakan lanjutkan, mungkin Anda akan paham.”

 Sang murid berkata, “Profesor mengajar dengan dualitas. Profesor berargumen tentang adanya kehidupan lalu mengajar tentang adanya kematian, adanya Tuhan yang baik dan Tuhan yang jahat. Profesor memandang Tuhan sebagai sesuatu yang dapat kita ukur.”

 Profesor langsung memotong, “Berhati-hatilah.
Jika Anda menempatkan Tuhan di luar jangkauan nalar, logika, dan sains dan membuatnya ‘tak terukur,’ maka yang tersisa hanyalah misteri yang Anda buat sendiri. Jadi jika Anda menggunakan dalih bahwa Tuhan ada di luar jangkauan untuk menyelesaikan masalah, Anda juga tak bisa mengatakan bahwa Tuhan Anda bermoral. Bahkan Anda tak bisa menyebutnya sebagai apa pun kecuali tak terukur. Jadi solusi Anda tidak ada bedanya dengan membersihkan ketombe dengan memangkas rambut.”

 Murid tersebut tercengang, namun tetap berusaha melanjutkan, “Profesor, sains bahkan tidak dapat menjelaskan sebuah pemikiran. Ilmu ini memang menggunakan listrik dan magnet, tetapi tidak pernah seorang pun yang melihat atau benar-benar memahami salah satunya.” Profesor: “Anda mengatakan bahwa sains tak bisa menjelaskan pikiran. Saya sendiri kurang paham apa yang Anda maksud. Apakah Anda mencoba mengatakan bahwa masih banyak misteri dalam neurosains?” 

Murid: “Begitulah.” “Dan bahwa pikiran, listrik, dan magnetisme itu kita anggap ada walaupun tak pernah kita lihat?” “Benar!” Sang professor tersenyum dan menjawab, “Bukalah kembali bukumu mengenai kesesatan false presumption. Perhatikan bab ‘kesalahan kategoris.’ Kalau Anda pernah membacanya, Anda akan ingat bahwa kesalahan kategoris adalah saat Anda menggunakan tolak ukur yang salah untuk suatu entitas, misalnya menanyakan warna dari suara. Meminta seseorang melihat magnetisme secara langsung merupakan kesalahan kategoris. “Namun, masih ada kesalahan lain dalam argumen Anda. Anda berasumsi bahwa empirisisme atau bahkan sains hanya didasarkan kepada pengamatan langsung. Ini tidak tepat. Penglihatan bukanlah satu-satunya cara untuk memahami dunia, dan sains juga bukan ilmu yang mempelajari apa yang kita lihat. Kita dapat menggunakan indera lain untuk melacak suatu fenomena. Dan kita juga dapat mempelajari pengaruh fenomena tersebut terhadap dunia. “Lebih lagi, Anda kembali melakukan kesalahan dengan menyatakan bahwa karena sains itu belum lengkap berarti Tuhan itu ada. Mungkin Anda perlu mempelajari kembali kesesatan ‘argumentum ad ignoratiam’ atau argumen dari ketidaktahuan. “Dan juga, seperti yang dikatakan oleh Neil deGrasse Tyson, gunakanlah contoh yang lebih baik karena sains sudah mampu menjelaskan bagaimana pikiran terbentuk dan bahkan Maxwell sudah lama menggabungkan elektrisme dan magnetisme menjadi elektromagnetisme. Contoh yang lebih baik itu misalnya materi gelap yang membuat perluasan alam semesta menjadi begitu cepat. Fisikawan tak bisa menjawab itu, dan mungkin Anda akan mengatakan jawabannya Tuhan. Namun dengan begitu, Anda justru sedang menyusutkan Tuhan. Anda melakukan kesesatan ad ignoratiam bahwa yang belum dijelaskan sains itu adalah keajaiban Tuhan, dan itu berarti Anda menempatkan Tuhan untuk mengisi gap dalam sains. Nah, dahulu manusia juga tak mampu menjawab mengapa hujan terbentuk atau mengapa gunung meletus, dan orang-orang dulu menyebutnya karena Tuhan. Kini kita sudah memahami hujan dan gunung meletus, begitu pula pikiran, listrik dan magnetisme, dan ke depannya materi gelap juga mungkin akan kita pahami. Dengan begitu Tuhan yang mengisi gap pun terus menciut."

 “Masih ada yang mau ditambahkan? Apakah penjelasan saya sudah cukup jelas?” Sang murid tampak bingung dan mencoba melakukan ad nauseam, “Em … kembali ke diskusi awal kita. Untuk menilai kematian sebagai kondisi yang berlawanan dengan kehidupan sama saja dengan melupakan fakta bahwa kematian tidak bisa muncul sebagai suatu hal yang substantif. Kematian bukanlah kontradiksi dari hidup, hanya ketiadaan kehidupan saja.”

 Profesor pun berkata, “Apakah Anda jatuh cinta dengan kesesatan kualitas sekunder? Lagi-lagi Anda melakukan kesalahan yang sama. ‘Kematian’ dan ‘kehidupan’ adalah istilah subjektif yang kita gunakan untuk menjelaskan fenomena keadaan-keadaan biologis. Menghapuskan istilah subyektif kematian tidak menghapuskan keberadaan kematian.” Si murid pun mencoba mengalihkan pembicaraan, “Apakah imoralitas itu ada?”

 Si profesor menggelengkan kepalanya dan berkata, “Keledai pun tidak akan jatuh ke dalam lubang yang sama. Ada yang masih kurang jelas, atau perlu saya ulangi lagi?” Sang murid yang terus berusaha menjustifikasi kepercayaannya berkata, “Begini … imoralitas itu adalah ketiadaan moralitas. Apakah ketidakadilan itu ada? Tidak. Ketidakadilan adalah ketiadaan keadilan. Apakah kejahatan itu ada? Bukankah kejahatan itu ketiadaan kebaikan?” Sang profesor menanggapi, “Jadi, jika seseorang membunuh ibumu malam ini, tidak terjadi apa-apa? Hanya ada ketiadaan moralitas di rumah Anda? Tunggu … dia tidak mati … cuma ketiadaan hidup kan?”

 Si murid berkata, “eh…” “Sekarang sudah mengerti di mana salahnya?” ujar sang profesor. “Anda mencampur kualitas sekunder dengan fenomena. ‘Imoralitas’ adalah istilah deskriptif untuk perilaku. Istilah tersebut bersifat sekunder, namun perilaku tetaplah ada. Jadi jika Anda menghapuskan kualitas sekunder itu, Anda tidak menghapuskan perilaku yang sesungguhnya terjadi. Dengan mengatakan imoralitas sebagai ketiadaan moralitas, Anda tidak menghapuskan keinginan atau perilaku imoral, tetapi hanya istilah subyektifnya. Begitu lho.”

 Si murid masih kukuh, “Apakah profesor pernah mengamati evolusi itu dengan mata profesor sendiri?” Sang profesor sudah bosan mendengar argumen “pernah lihat angin tidak.” “Evolusi itu bisa diamati karena hingga sekarang masih berlangsung. Misalnya, pada tahun 1971, beberapa kadal dari pulau Pod Kopiste di Kroasia dipindah ke pulau pod Mrcaru. Pulau Pod Kopiste tidak banyak tumbuhan sehingga memakan serangga, sementara di pulau Pod Mrcaru ada banyak tumbuhan. Setelah ditinggal selama beberapa dekade, ketika ditemukan kembali, kadal di pulau Pod Mrcaru mengalami proses evolusi. Kadal tersebut mengembangkan caecal valve, yaitu organ yang penting untuk mengolah selulosa dalam tumbuhan, yang sebelumnya tidak ada. Atau, jika Anda pergi ke laboratorium Richard Lenski di Amerika Serikat, Anda bisa saksikan sendiri bagaimana bakteri e coli yang sebelumnya tak bisa mengolah asam sitrat, karena evolusi dengan seleksi alam muncul e coli yang bisa mengolah asam sitrat. “Lagipula, Anda lagi-lagi terjeblos dalam kesesatan ad ignoratiam. Jika ingin konsisten dengan logika Anda, Anda akan mengatakan bahwa pohon tidak pernah tumbuh karena Anda tak pernah melihat langsung bagaimana pohon tumbuh. Lebih lagi, Anda kembali melakukan kesalahan dengan mengasumsikan bahwa sains itu hanya terdiri dari pengamatan langsung.“

 Si murid memotong, “Apakah ada dari kelas ini yang pernah melihat otak Profesor? Apakah ada orang yang pernah mendengar otak Profesor, merasakannya, menyentuhnya atau menciumnya? Tampaknya tak seorang pun pernah melakukannya. Jadi, menurut prosedur pengamatan, pengujian dan pembuktian yang disahkan, ilmu pengetahuan mengatakan bahwa profesor tidak memiliki otak. Dengan segala hormat, bagaimana kami dapat mempercayai pengajaran profesor?”

 Si profesor tertawa dan menjawab, “Terima kasih sudah hadir di kelas ini sehingga saya bisa membenarkan kesalahan Anda walaupun Anda terus menerus mengulanginya. Sekali lagi, sains itu tidak terbatas kepada ‘melihat’ sesuatu. Sains itu juga rasional. Kita dapat menyimpulkan berdasarkan bukti yang ada. Dan salah satu simpulan yang dapat saya tarik dengan mengamati perilaku Anda hari ini adalah bahwa Anda telah membuang-buang uang karena tidak membaca buku logika yang sudah Anda beli. Jadi saya sarankan bacalah buku itu kembali dari halaman satu agar tidak terus menerus mengulangi kesalahan yang sama.” –

Dan murid itu adalah orang yang tidak banyak membaca…

Dialog seorang profesor dengan muridnya mengenai teodisi atau upaya untuk merekonsiliasi keberadaan Tuhan dengan kejahatan telah menyebar luas di dunia maya. Seorang murid dikisahkan berhasil membantah pernyataan profesor yang digambarkan “sombong.” Biasanya di akhir kata ditambahkan embel-embel “murid itu adalah Albert Einstein,” yang jelas salah karena Einstein tidak percaya Tuhan personal, namun kepada Tuhannya Baruch Spinoza, yaitu keserasian hukum alam. Selain mencatut nama Einstein, dialog ini juga memiliki kesalahan logika yang fatal.


JOKE SI LULUNG

Si Lulung naik pesawat SQ balik ke Jkt dari Spore. Perutnya mules tapi semua toilet pria sedang terisi. Lulung pusing, mukanya sudah pucat karena menahan BAB.

Untung pramugarinya baik. Katanya : "Gak apa² pak, pakai saja toilet wanita, tapi jangan menekan tombol apapun. Kalau sudah selesai, langsung diflush/siram aja ya..."

 Setelah Lulung masuk, ternyata toilet wanita berbeda, banyak tombol²nya, ada WW, WA, PP & ATR. Iapun tambah penasaran, apa gunanya tombol² itu? Selesai BAB dia flush...tapi Lulung penasaran dan mulai coba tombol² lainnya...

 Dia tekan tombol WW, langsung Sroot...keluar air hangat menyemprot pantatnya. "Ooh ini artinya Warm Water untuk cebok!" Tambah penasaran, ditekannya tombol WA.. Whooos.. langsung keluar angin hangat untuk mengeringkan pantat... "Mmm... WA ini artinya Warm Air, pantes saja perempuan suka lama² di toilet..enak juga..." Lanjut...tekan PP, langsung keluar bantalan bedak (Powder Puff), membedaki pantat yg sudah kering...

Makin heran, tapi ia tertawa sendiri.."Eei....waaah kurang ajar, kalau di Jakarta muka yg dibedakin, di sini pantat dibedakin juga...."

 Lulung sudah tak ragu lagi, sehingga tanpa berpikir dia tekan tombol ATR.... Gubraaakk!! Dia jatuh terlentang dan pingsan!!

Waktu sadar2nya dia sudah berada di RSCM. Dia tanya sama perawatnya. Dijawab oleh perawat dengan lembut : "Begini pak, sesuai hasil investigasi, waktu itu bapak menekan tombol ATR yg artinya “Automatic Tampon Removal” Tombol itu fungsinya untuk melepaskan pembalut wanita secara otomatis... Karena bapak gak pake pembalut, otomatis yg ditarik "perabotannya' bapak, maka copot dech semuanya....!!!" Gubrakkk!!! Lulung jatuh pingsan lagi!!! Kabarnya sampai saat anda baca ini, si lulung belum siuman juga...

DUNIA YANG TIDAK UTUH

Ya Chun pelajar di Tsung Lin University Fo Guang Shan, tidak suka dengan dosen pembimbingnya. Dia selalu menolak INTRUKSI DAN NASIHAT gurunya itu.

 Suatu hari Master Hsing Yun, pimpinan universitas, memanggilnya: “Dengar2 kamu ada masalah dengan dosen pembimbingmu. Apakah yang membuatmu kurang puas terhadap beliau ?"

 Ya Chun tidak melewatkan kesempatan ini, setengah jam lamanya dia mengutarakan kejelekan dosennya. Master Hsing Yun mendengarkan. Semua kejelekan dosennya dibeberkan Ya Chun. 

Setelah Ya Chun kehabisan ide tentang saran2 perbaikan untuk sang dosen, akhirnya Master Hsing Yun berkata: “Kalau sudah selesai, sekarang ganti saya yang bicara, ya ?”. Ya Chun manggut2 mengiyakan. Master Hsing Yun berkata: “Kamu ini adalah orang yang berkarakter membedakan HITAM DAN PUTIH secara jelas, memandang perbuatan buruk layaknya musuh”.

 Ya Chun mengangguk & berkata dengan bangga, “Shifu, Anda benar. Saya memang orang seperti itu !”

 Master Hsing Yun melanjutkan: “Kamu tahu, dunia ini adalah dunia yang separuh separuh. Langit separuh, bumi separuh. Lelaki separuh, perempuan separuh, Bajik separuh, jahat separuh, Jernih separuh, keruh separuh. Sangat disayangkan, apa yang kamu miliki adalah dunia yang tidak utuh”. 

Ya Chun tercengang sekian saat, lalu bertanya: “Kenapa Shifu mengatakan yang saya miliki adalah dunia yang tidak utuh ?".

 Master Hsing Yun menjawab, “Karena yang kamu cari adalah KESEMPURNAAN. Hanya bisa menerima sisi sempurna yang hanya separuh saja. Tidak bisa menerima KETIDAKSEMPURNAAN yang merupakan sisi separuhnya lagi. Oleh karena itu, yang kamu miliki adalah dunia yang tidak utuh, tidak akan pernah menjadi bulat utuh."

 Ya Chun seketika itu juga merasa limbung, tidak tahu harus bagaimana. Dia lalu bertanya: “Lantas, saya harus bagaimana ?”

 Master Hsing Yun dengan welas asih menjawab: "Belajar toleran terhadap dunia yang tidak sempurna, maka kamu akan memiliki sebuah dunia yang utuh”.

  Aku yang bahagia senantiasa mau memancarkan cinta kasih ke seluruh penjuru kpd kalimasada. LSPPIS. Berkah Dalem.

Minggu, 24 Februari 2013

KONSEP PIKIRAN

Dulu saya punya teman jauh yang sedang kuliah di Samarinda, Kaltim. Teman saya ini, namanya Nani, suatu kali mendatangi saya yang berada di Surabaya. Kebetulan kami berdua punya hobi yang sama, yaitu SUKA PERGI-PERGI NAIK KENDARAAN UMUM TANPA TUJUAN. Ya, Anda tidak salah baca, memang PERGI TANPA TUJUAN. Sebuah hobi yang cukup NYLENEH, tapi memang begitulah adanya saya waktu itu.

Waktu itu kami berdua berada di Terminal Bungurasih, hendak ke Madiun atau ke Malang, saya lupa. Di dalam bus ada seorang perempuan berpakaian lusuh sedang minta-minta. Teman saya memberikan beberapa keping uang logam. Setelah perempuan peminta-minta itu pergi, Nani berkata, “ Orang itu LEBIH BERUNTUNG dari saya, Sus. Dia sudah PUNYA PEKERJAAN TETAP, sementara saya belum. Dia sudah PUNYA PENGHASILAN, sementara saya belum. Dia tentu PUNYA ANAK-ANAK ATAU KELUARGA YANG SELALU MERINDUKAN KEDATANGANNYA, sementara saya……”

Nani tidak meneruskan ucapannya. Ia jadi sibuk mengusap air matanya. Mungkin ia teringat sesuatu yang membuatnya sedih. Teman saya ini memang pernah bercerita bahwa selama ini ia dibesarkan dalam keluarga yang kurang harmonis.
Sahabat, saya bukan hendak membahas soal teman saya yang bernama Nani itu, keluarganya, atau menyangkut pribadi-pribadi lain. Yang menggelitik saya adalah ucapan Nani yang mengatakan bahwa DIRINYA TIDAK LEBIH BERUNTUNG DARI SEORANG PENGEMIS. Masa sih seorang pengemis lebih beruntung dari seorang Nani yang anak orang kaya, yang jauh lebih cantik, yang bisa menempuh studi sampai perguruan tinggi pula…???

Sahabat, siapapun kiranya, dalam kehidupan di dunia ini pasti MENGHENDAKI KEPUASAN DAN KEBAHAGIAAN. Semua mengendaki CUKUP PANGAN, CUKUP SANDANG, TEMPAT TINGGAL YANG LAYAK, KESEHATAN, dan lain sebagainya. Lalu…, seandainya semua itu telah kita dapatkan, apakah hidup kita nantinya akan benar-benar bahagia, menyenangkan, dan menenteramkan…???

Tentu saja tidak! Semua yang masih bersifat KEBENDAAN selalu TIDAK TETAP alias BERUBAH-UBAH. Jika saat ini kita kemana-mana ditemani BB bisa membuat hati kita senang dan puas. Boleh jadi, minggu depan, atau mungkin bulan depan, BB itu tak bisa lagi memberi kesenangan dan kepuasan pada kita. Semua benda dan semua keadaan yang bergantung pada benda tidak bisa DIPEGANG DENGAN TETAP, TIDAK BISA DIAM, bahkan BISA MENIPU DAN MEMPERDAYA MANUSIA.

Sekarang ini mungkin saja masih ada orang yang menjauhi keramaian dan mengasingkan diri di tempat sepi dengan tujuan MENCARI KEBAHAGIAAN SEJATI, KEBAHAGIAAN YANG MUTLAK, KEBAHAGIAAN YANG TIDAK BERUBAH-UBAH. Orang ini tidak mau TERGODA atau TERTIPU oleh DUNIA KEBENDAAN yang memang punya sifat MENIPU. Lalu… pertanyaannya: mungkinkah orang ini akan berhasil mencapai kebahagiaan sejatinya? Jika memang BISA BERHASIL, apakah ini tidak MENYALAHI KODRATNYA SEBAGAI MANUSIA BERMASYARAKAT…???

Sahabat, BAHAGIA ATAU TIDAK, BERUNTUNG ATAU TIDAK, sebenarnya BUKAN MASALAH selama KITA TIDAK MENGANGGAPNYA SEBAGAI MASALAH. Semua tergantung pada PENGKONDISIAN PIKIRAN DAN BATIN KITA. Jangan sampai Anda tersiksa oleh pikiran Anda sendiri. Sebuah konsep pikiran (mind conception) BERBANDING LURUS dengan kondisi batin Anda. Maka, hati-hati dengan pikiran Anda sendiri! Bahagia atau tidak, berawal dari sini. Salam.
By: Susilo Pranowo

TUHAN YANG DILECEHKAN

Saya kerap membaca STATUS di FB yang isinya tulisan bermakna EJEKAN atau MERENDAHKAN kepercayaan dan keyakinan orang lain. Orang bisa bersikap seperti ini tentu karena YAKIN dan MENGANGGAP kepercayaannya (baca: agamanya) adalah yang MUTLAK PALING BENAR. Pertanyaannya: apakah memang benar demikian? Tapi kalau memang benar demikian, apa perlunya mengejek dan merendahkan keyakinan orang lain?
Sahabat, saya suka sekali MENGAMATI kehidupan di sekitar saya. Tidak sedikit ORANG YANG TEKUN IBADAHNYA ternyata hidupnya masih saja berkutat dengan KESULITAN. Sebagian dari orang-orang ini akan sangat tersinggung bila keyakinannya direndahkan. Dia akan membela kebenaran agamanya dengan MULUT NEROCOS (tapi tidak perlu sampai mati-matian. Hehehe…).
Saya kemudian berpikir, orang itu begitu patuhnya kepada Tuhannya, tapi kenapa hidupnya begitu-begitu saja? Ada juga yang terceplos omongan, katanya itu COBAAN DARI TUHAN. Ketika kena tipu orang, ini cobaan. Anaknya jatuh sakit, ini juga cobaan. Sedang jalan keserempet motor, ini cobaan pula. Hidup susah banyak masalah, lagi-lagi ini juga cobaan…. dari Tuhan… tentu saja. Katanya….
Sahabat, orang yang punya keyakinan kebenaran akan Tuhannya otomatis akan membentuk SIKAP MENDEKATKAN diri kepada Tuhan. Dan…, TUHAN TIDAK AKAN PERNAH MENYENGSARAKAN MANUSIA YANG SELALU MENDEKAT KEPADA-NYA! Hal ini sebenarnya tidak perlu KESADARAN SPIRITUAL TINGGI untuk bisa memahaminya. Gunakan logika sederhana saja.
Jika Tuhan-mu saja tidak pernah memberikan SOLUSI TERBAIK bagi permasalahanmu, kenapa engkau MENGHINA Tuhan orang lain…??? Tengok ke dalam DIRI SENDIRI. Perbaiki SIKAP BER-KETUHAN-an diri sendiri. Tak perlu mempermasalahkan keyakinan orang lain. Jika Tuhan itu benar ada dalam dirimu, maka hanya KASIH-SAYANG yang akan selalu engkau pancarkan dalam setiap tindakan dan tutur katamu.

TUHAN YANG PALING BAIK



Suatu kali Bendol menggerutu di hadapanku, “ Pusing aku baca postingan di FB yang  suka mempermasalahkan soal Tuhan…  Tuhan lagi! Tuhan lagi! “
     “Emang Tuhan lagi ngapain, Ndol?” tanyaku bego.
     “Itu tuhhh… Di grup ini…, dikatakan Tuhan ini yang paling  baik. Di grup itu…, ya Tuhan itu yang  paling baik.  Emang Tuhan itu ada berapa sih..???”
     “Hehehe….  Kalo ada Tuhan yang paling baik, tentu ada Tuhan yang  biasa-biasa saja baiknya. Ada yang kurang baik…, atau malah ada yang tidak baik.  Hehehe….”
     “Kalo aku sih, biar kata Tuhan bernama Abdul, Ariel, atau Dedy Corbuzet sekalipun, bagiku TIDAK PENTING.  Biar kata Tuhanmu PALING JAGO, tapi kalo kelakuanmu sehari-hari masih suka embat istri tetangga atau nyolong barang-barang di kantor, ya… gak ada artinya.”
     “Lha biar ada artinya  harus gimana, Ndol…??? “ tanyaku bego lagi.
     “Apapun agamamu, selama kamu masih suka mengejek dan menghina agama orang lain, itu artinya kamu tidak mampu memahami ajaran agamamu sendiri. Dan sadarkah kamu jika apa yang kamu lakukan itu justru MENCORENG AGAMAMU sendiri..???!!!”
     “Eh, koq kamu jadi marah kepadaku, Ndol….?” Aku tersenyum kecut.
     “Sori… sori… aku tidak marah, Cuma menuangkan UNEG-UNEG saja.”
     “Lalu…?”
     “Perlu kamu ketahui… bahwa KEAGUNGAN dan KEBENARAN  ORANG-ORANG SUCI,  baik zaman dulu… sekarang… ataupun nanti justru TERLETAK PADA KESEDERHANAAN, KEWAJARAN,  KETERBUKAAN yang mereka miliki. Dan dari situ TERPANCAR  SIFAT WELA ASIH,  yang BUKAN CUMA DALAM UCAPAN, juga TERLEBIH PADA PERBUATAN. Jadi, kalo ada orang yang suka koar-koar  MERENDAHKAN  DAN MENGHINA orang lain, artinya orang itu MASIH JAUH.”
     “O, begitu ya, Ndol. Okelah sekarang  sudah waktunya makan siang. Hutangmu pada Mbok Nah sudah kamu bayar belom?”
     Bendol ganti yang tersenyum kecut.
     “Okelah, kali ini aku yang bayar lagi. Hehehe….”
     Aku dan Bendol pun makan siang.  Bendol tampak begitu lahap menikmati  SOTO AYAM-nya.  Tampaknya dia sudah lupa kalo baru saja marah-marah soal Tuhan.
By: Susilo Pranowo