Label

Tampilkan postingan dengan label ANALOGI SAJA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ANALOGI SAJA. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Februari 2018

MUNGKINKAH MENIKMATI SURGA TANPA KESADARAN RUH


   
Suatu kali aku main ke rumah Jon Koplo. Seperti biasa istrinya ikut menyambut dengan ramah.  Setelah dihadapkan segelas kopi dan makanan kecil , aku berbincang.
   “Kabar anak-istrimu gimana?” Tanya Jon Koplo.
   “Alhamdulillah… baik-baik saja,” jawabku.
   “Badanmu makin kurus  saja. Jangan banyak pikiran to….”
   “Hahaha…. Badan kurus tidak ada hubungannya dengan banyak pikiran atau tidak.  Badan kurus… atau badan gemuk… kalo ada hubungannya dengan hidup makmur … mungkin ‘iya’…”
   Jon Koplo ikut tertawa, “Eh.., ngomong dingomong,  ada kalimat bijak… UCAPANMU MENUNJUKKAN JALAN PIKIRANMU. TINDAKANMU MENUNJUKKAN SIAPA DIRIMU. Sementara…, jalan pikiran berperanan utama dalam sebuah tindakan. Pikiran keliru menghasilkan tindakan keliru. Pikiran lurus menghasilkan tindakan lurus…. Tapi masalahnya…, bagaimana kita bisa MENJAGA SUPAYA JALAN PIKIRAN TETAP DALAM KONDISI LURUS…?”
   “Nah itu…,” sahutku. “Banyak orang MERASA BENAR padahal cuma menjadi PEMUAS EGO PIKIRAN yang selalu mencari PEMBENARAN DIRI.  Pikiran benar sangat tergantung dari pengalaman hidup seseorang. Dalam pikiran benar  tidak berlaku rumus 1+1=2. Pikiran benar dalam otak seseorang sifatnya absurd, relative, dan tidak mutlak.”
   “Betul. Pikiran bekerja selama otak masih berfungsi secara medis.  Kesadaran pikiran seseorang akan hilang lenyap… jika otak tdk lagi berfungsi. Manusia yg otaknya tak lagi berfungsi dikatakan bahwa ia TELAH MATI. Tapi…. Otak yg masih berfungsi tidak otomatis ia masih punya kesadaran pikir. Sementara, kesadaran pikir inilah yang membuat seseorang bisa merasakan kesenangan, kenikmatan, belajar sesuatu, atau  sekadar berharap dan berangan-angan…”
   Aku diam saja. Setelah nyeruput kopinya, Jon Koplo melanjutkan bicaranya.
   “Sejak kita mengenal dunia hingga kita dewasa dan menua seperti sekarang ini… semua bacaan, semua pelajaran…, semua inputan…, semua induksi baik positif ataupun negative… MASUKNYA KE DALAM KESADARAN PIKIR yg bersumber di otak.  Coba kalau ada seorang dokter jatuh terbentur kepalanya, kemudian terganggu fungsi otaknya, maka bisa saja semua ilmu kedokterannya hilang begitu saja. Karena, ada yg hilang dalam kesadaran pikirnya.
   Kesadaran pikir… boleh kita sebut sebagai JIWA. Orang yg kesadaran pikirnya mengalami gangguan,  orang ini disebut  SAKIT JIWA.  Orang ini tidak lagi memiliki kontrol terhadap apa yg ia lakukan.  Ia bisa mekakukan apa saja tanpa peduli akan akibatnya. Meloncat dari jembatan yg tinggi pun, ia tdk takut, padahal itu bisa membunuhnya.
    Oke… kita kembali dulu ke anasir pembentuk manusia. Di sana ada ruh…, pikiran…, dan raga. Kesadaran ruh bisa kita namakan sebagai SUKMA. Ruh mutlak harus ada agar manusia bisa disebut HIDUP. Sementara…, hidup di alam fana… seseorang harus memakai raga. Dan raga bisa uzur kemudian berhenti semua fungsi organnya alias MATI. Rasa enak atau tidak enak, nikmat atau tidak nikmat…, yg merasakan adalah KEASADARAN PIKIRAN… bukan raga! Walaupun rasa-rasa itu langsung bersentuhan dengan raga.
   Sederhananya begini…, seseorang yg DIBIUS  TOTAL…, katakanlah hendak menjalani operasi,  maka dia tidak akan bisa merasakan apapun… karena KESADARAN PIKIRNYA SUDAH HILANG. Tapi orang ini masih hidup karena dia masih punya ruh. Masalahnya…. Tidak dulu… tidak sekarang… banyak orang yg TIDAK MENGENAL RUH-nya SENDIRI. Padahal…, saat seseorang sudah mati… bukankah ruh-nya akan terus hidup… dan ABADI. Bagaimana mungkin RUH BISA MERASAKAN SURGA sementara sang ruh ini TIDAK PUNYA KESADARAN…????”
   Aku manggut-manggut saja. “Bener juga sih. Maka aku suka heran melihat orang yg sangat yakin akan masuk surga… sementara kesadaran ruh-nya tidak pernah diperbaiki.”
   “Bagaimana cara kita mengenal ruh kita sendiri… biar kalau raga mati, ruh kita tidak jadi linglung dan tersesat karena tdk punya keasadaran….?”
   “Caranya…?”
   “Wah…, keasyikan ngobrol…, sori loh ya… sudah malam. Besok bisa dilanjut,” pungkas Jon Koplo.
   Aku pun berpamitan.
Banyak jalan menuju Roma.
Dan jalan itu bisa dari mana saja.


Glodok, 18 Februari 2018.  5.24 PM.

Kamis, 15 Februari 2018

ANDA SAKIT JIWA

  
Beberapa hari yang lalu, Sodrun berkunjung untuk menjenguk kerabat di RS-Jiwa Menur.
Kebetulan bukan di jam sibuk, Sodrun menemui seorang dokter, dan  mengajaknya ngobrol-ngobrol tentang segala hal. Mulai dari bagaimana penanganan pasien sampai ke masalah-masalah umum dalam hidup.
Sampai tiba saatnya ketika Sodrun bertanya kepada dokter itu....
“Dok, gimana sih caranya dokter ngetest pasien-pasien dokter itu masih gila atau sudah waras ?”
“Oh mudah saja, kami mengisi bak mandi dgn air sampai penuh, lalu kami suruh mereka mengosongkan bak mandi dgn memberikan ke orang itu :
1. Sendok Teh
2. Gelas
3. Gayung
Pilih yang mana ?
Lalu kita minta dia untuk mengosongkan bak mandi itu”, jawab si Dokter.
“Ooooh… yang sudah waras pasti pasti pilih gayung. Soalnya itu paling gede dan cepat", kata Sodrun dengan penuh percaya diri.
Terjadi keheningan sejenak . .
...........................
…………………………
Lalu sang Dokter berkata, “Tidak, kalau orang itu sudah normal, dia akan cabut aja penyumbat bak mandi nya…"
Sodrun bengong….

Sahabat…, apa pesan moral dari cerita di atas???
Sadarkah Anda bahwa dalam hidup ini Anda pernah…, atau bahkan sering…, membuat pilihan  yang sebenarnya itu bukanlah pilihan yang tepat…? Anda memilih… memutuskan sesuatu…, hanya berdasarkan EGO… biar kelihatan “wah”. Biar kelihatan Anda adalah manusia superior. Anda masih butuh sebuah PENGAKUAN, padahal semua itu hanyalah produk KESADARAN PIKIR…, yg mencari kepuasan ego dan kenyamanan dengan memaksakan pembenaran sesaat…!


Hidup memang pilihan. Tapi hidup bukanlah MULTIPLE CHOICE dimana jika Anda memilih salah salah satu, pasti ada yang benar. Bukan! Kayakinan saja tidak cukup. KAWERUH atau input yg benar-lah yang akan menyelamatkan Anda dari pilihan yg salah! Jika Anda sakit jiwa…, maka hilanglah semua ilmu atau apapun pengetahuan yg pernah Anda pelajari seumur hidup!

BERKESEDARAN SECARA UTUH… Tidak separuh-separuh! Kesadaran pikir selalu punya ALIBI dan CARA untuk menemukan PEMBENARAN. Tragisnya, jika Anda mati…, mengenal diri Anda secara ruh,  mustahil bisa. Karena…, kesadaran yg berperanan cuma kesadaran pikir yg berpusat di otak. Jika otak Anda mati secara medis, maka hilang sudah semua kontrol terhadap hidup Anda yg selanjutnya. Hidup secara ruh…, bekalnya adalah kesadaran ruh.

Glodok, 15 Februari 2018, 7.27 PM


Selasa, 26 Januari 2016

JADILAH POHON BAMBU



Pohon bambu tidak akan menunjukkan pertumbuhan berarti selama 5 tahun pertama.
Walaupun setiap hari disiram & dipupuk, tumbuhnya hanya beberapa puluh centimeter saja.
Namun setelah 5 tahun kemudian, pertumbuhan pohon bambu sangat dahsyat dan ukuran nya tidak lagi centimeter melainkan meter.

Sebetulnya apa yang terjadi pada sebuah pohon bambu...?

Ternyata, selama 5 tahun pertama, ia mengalami pertumbuhan dahsyat pada akar, dan bukan pada batang.
Pohon bambu sedang mempersiapkan pondasi yang sangat kuat, agar ia bisa menopang ketinggian nya yang ber-puluh2 meter kelak kemudian hari.

Moral of The Story

Jika kita mengalami suatu hambatan & kegagalan, bukan berarti kita tidak mengalami perkembangan...justru kita sedang mengalami pertumbuhan yang luar biasa didalam diri kita.
Ketika kita lelah & hampir menyerah dalam menghadapi kerasnya kehidupan, jangan pupus harapan...
"The hardest part of a rocket to reach orbit is to get through the earth's gravity"
"Bagian terberat agar sebuah roket mencapai orbit adalah saat melalui gravitasi bumi"

Jika kita perhatikan, bagian peralatan pendukung terbesar yang dibawa oleh sebuah roket adalah jet pendorong untuk melewati atmosphere & gravitasi bumi.
Setelah roket melewati atmosphere, jet pendorong akan dilepas & roket akan terbang dengan bahan bakar minimum pada ruang angkasa tanpa bobot, melayang ringan & tanpa usaha keras.

Demikian pula dengan manusia, bagian terberat dari sebuah kesuksesan adalah disaat awal seseorang memulai usaha dari sebuah perjuangan.
Segala sesuatu terasa begitu berat dan penuh tekanan.
Namun bila ia dapat melewati batas tertentu, sesungguhnya seseorang dapat merasakan segala kemudahan & kebebasan dari tekanan & beban.
Namun sayangnya, banyak orang yang menyerah disaat tekanan & beban dirasakan terlalu berat, bagai sebuah roket yang gagal menembus atmosphere.

Buya Hamka berkata: "Kalau hidup sekedar hidup, babi dihutan juga hidup. Kalau kerja sekedar kerja, kera juga bekerja"

Ketika pohon bambu ditiup angin kencang, dia akan merunduk.
Setelah angin berlalu, dia akan tegak kembali.

Seperti perjalanan hidup seorang manusia, tak lepas dari rintangan.
Jadilah seperti pohon bambu...!!!
Fleksibilitas pohon bambu mengajarkan kita sikap hidup yang berpijak pada keteguhan hati dalam menjalani hidup, walaupun badai & topan menerpa.

Tidak ada kata menyerah untuk terus tumbuh, tidak ada alasan untuk terpendam dalam keterbatasan, karena bagaimanapun pertumbuhan demi pertumbuhan harus diawali dari kemampuan untuk mempertahankan diri dalam kondisi yang paling sulit sekalipun.

Pastikan dalam tahun2 mendatang, hidup kita akan MENJULANG TINGGI dan menjadi PEMBERI BERKAH bagi sesama...seperti halnya pohon bambu...

πŸŒΏπŸƒπŸŒΏπŸŒΉπŸƒπŸŒΏπŸƒπŸŒΉ

Jumat, 15 Januari 2016

RUBAHLAH GELASMU MENJADI DANAUMU



“Seorang guru sufi mendatangi seorang murid nya ketika wajah nya belakangan ini selalu tampak murung.

“Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Ke mana pergi nya wajah bersyukurmu?” sang Guru bertanya.

“Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habis nya,” jawab sang murid muda.

Sang Guru terkekeh. “Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu.”
Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan Guru nya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.

“Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu,” kata Sang Guru. “Setelah itu coba kau minum air nya sedikit.”
Si murid pun melakukan nya. Wajah nya kini meringis karena meminum air asin.

“Bagaimana rasanya?” tanya Sang Guru.

“Asin, dan perutku jadi mual,” jawab si murid dengan wajah yang masih meringis.

Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah murid nya yang meringis keasinan.

“Sekarang kau ikut aku.” Sang Guru membawa murid nya ke danau di dekat tempat mereka. “Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau.”

Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulut nya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulut nya, tapi tak dilakukan nya. Rasa nya tak sopan meludah di hadapan Mursyid, begitu pikir nya.

“Sekarang, coba kau minum air danau itu,” kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk diduduki nya, tepat di pinggir danau.

Si murid menangkupkan kedua tangan nya, mengambil air danau, dan membawa nya ke mulut nya lalu meneguk nya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokan nya, Sang Guru bertanya kepada nya, “Bagaimana rasa nya?”

“Segar, segar sekali,” kata si murid sambil mengelap bibir nya dengan punggung tangan nya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana. Dan air nya mengalir menjadi sungai kecil di bawah. Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulut nya.

“Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?”

“Tidak sama sekali,” kata si murid sambil mengambil air dan meminum nya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikan nya, membiarkan murid nya itu meminum air danau sampai puas.

“Nak,” kata Sang Guru setelah murid nya selesai minum. “Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyak nya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh ALLAH, sesuai untuk dirimu. Jumlah nya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah.”

Si murid terdiam, mendengarkan.

“Tapi Nak, rasa ‘asin’ dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besar nya qalbu yang menampung nya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu jadi sebesar danau.”"
===

Senin, 09 Desember 2013

BUPATI DAN PRESIDEN SAMA SAJA

Di halaman GEDUNG PEMERINTAHAN.
Bejo terperangah sekaligus tersenyum senang, saat melihat sosok orang di kejauhan sana. Orang itu memakai setelan jas rapi, diapit orang-orang berpakain resmi pula. Sementara tidak jauh darinya tampak belasan polisi berseragam.
“Orang itu pasti PRESIDEN…,” pikir Bejo.
Tapi benarkah dia presiden? Bejo bertanya kepada seorang remaja yang melintas di hadapannya. Jawaban yang didapatnya, ternyata si orang berjas adalah BUPATI.

Bejo lalu melanjutkan perjalanannya. Kali ini ia melihat lelaki berjas rapi yang baru turun dari mobil sedan mengkilat mahal. Di depan dan belakang sedan, tampak puluhan polisi bermotor. Semua orang tampak menunduk hormat.
“Nah, kalo itu pasti PRESIDEN…!
“Bukan!” sahut lelaki kumal yang mendengar gumaman Bejo.
“Kalau bukan presiden, lalu siapa?” buru Bejo.
“Dia kan GUBERNUR!” jawab si lelaki berpakaian kumal, tegas.
“Oooo….” Bejo melongo. Lalu berjalan menjauh sambil garuk-garuk kepala.

Sahabat…., cerita tentang Bejo di atas hanyalah ANALOGI yang mewakili sebuah “pencarian”. Benarkah TUHAN yang selalu kita jadikan TUMPUAN DOA kita adalah TUHAN YANG SEBENAR-BENARNYA TUHAN…????
Sosok Tuhan yang menurut PEMIKIRAN KITA adalah yang begini-begitu, jangan-jangan.... cuma “bupati” atau “gubernur” saja….???
TUHAN ataukah IBLIS ataukah SETAN JAHANAM sekalipun, bukankah akan sama saja di mata ORANG BUTA? Dia pasti tak akan mendapat “JALAN BENAR” karena “APA YANG MENJADI TUJUANNYA SUDAH SALAH”.
Dan sebaliknya, ORANG MELEK pun tetap akan KELIRU LANGKAH bila NAVIGASINYA tidak bagus. Navigasi bagus tapi TIDAK UP TO DATE, ya sama juga sami mawon…. Hehehe…..
By: Susilo Pranowo

Senin, 17 Juni 2013

BANYAK DARI KITA TIDAK LEBIH PINTAR DARI MONYET


Di Afrika, konon ada satu suku yang gemar MAKAN DAGING MONYET. Dari berbagai macam cara mereka berburu monyet, ada satu yang sangat unik. Mereka menggunakan alat semacam KENDIL (bejana yang bermulut kecil namun luas di bagian dalam).

Kendil itu mereka ikat pada batu atau pohon besar. Di dalam kendil diisi KACANG, dan sebagian lagi dibiarkan berserak di luar. Monyet yang datang biasanya akan memakan kacang yang berserak di luar kendil lebih dulu. Dan ketika kacangnya habis, ia akan memasukkan tangannya ke mulut kendil untuk mengambil kacang yang ada di dalamnya.

Alhasil, monyet tersebut tidak bisa mengeluarkan tangannya dari mulut kendil, karena ia tak mau melepaskan kacang yang berada dalam genggamannya. Dan si monyet pun tertambat terus di tempat itu sampai sang pemburu datang. Sebetulnya si monyet bisa saja melarikan diri, tapi ia tetap BERSIKUKUH tak mau melepas kacangnya.

Sahabat…, sampai kapan si monyet bisa menyadari keadaannya ini…??? Ternyata sampai AJAL MENJEMPUTNYA, ia tak pernah sadar akan KEBODOHANNYA. Kacang dalam genggamannya baru terlepas manakala ia TELAH MATI DISEMBELIH!

Sahabat…, cerita di atas hanyalah PASEMON  yang mungkin bisa mengingatkan kita semua bahwa…. betapa kita TIDAK SADAR telah terjebak  dalam COMFORT ZONE.  Zona nyaman ini membuat diri kita TER-ISOLASI  dari hal-hal yang KREATIF-INOVATIF. Kita takut melakukan SESUATU YANG BERBEDA dari kebiasaan.  Saat DUNIA LUAR telah bergerak maju, tanpa sadar hal itu telah menempatkan kita dalam kondisi STAGNAN yang pada akhirnya berakibat KETERPURUKAN.

Seorang PENGUSAHA akan sulit maju bila ia tidak bisa melepaskan diri dari zona nyamannya. Ide-ide yang kemungkinan bisa menghasilkan daya hentak luar biasa kadang hanya KANDAS oleh BAYANG-BAYANG TAKUT AKAN GAGAL.

Bahkan ada orang (maaf) MISKIN tapi SOMBONGNYA sundhul langit. Amit-amit….. Katanya, ia sedang DICOBA ATAU DIUJI oleh Tuhan! Hehehe…

Tanpa disadari orang ini telah terjebak dalam ZONA KEMISKINANNYA. Padahal kalau ia mau, ia bisa melepaskan diri dari kemiskinannya itu, karena ia PUNYA KESEMPATAN DAN PELUANG YANG SAMA DENGAN YANG LAIN. Bukankah Tuhan itu maha adil?

ORANG BODOH yang tak mau belajar akan selalu mendapat JATAH LEBIH SEDIKIT dari ORANG PINTAR.                  Sementara, ORANG RAJIN YANG BEKERJA LEBIH PINTAR tak pernah berhenti BELAJAR untuk mendapatkan ide-ide baru. Dan bila suatu kali ia GAGAL, ia tak akan pernah MENGKAMBINGHITAMKAN TUHAN! Kegagalan bukan takdir Tuhan, karena kegagalan BUKAN HASIL AKHIR.

So, mari kita bekerja LEBIH SMART!                                                                                                                                                                        
By: Susilo Pranowo


Jumat, 07 September 2012

BELILAH NASI


Siang itu Udin sedang bermain seorang diri. Tiba-tiba ia mendengar suara ayahnya memanggil.

   “Belilah nasi,” perintah sang ayah seraya menyodorkan sejumlah uang.
   Tanpa pikir panjang, Udin pergi  RUMAH MAKAN PADANG. Walau untuk itu ia harus berjalan cukup jauh. Terpanggang terik matahari pula. Tapi sesampai di rumah, nasi itu cuma disuruh meletakkan di meja. Tanpa disentuh oleh sang ayah.
   “Belilah nasi lagi,” untuk kedua kalinya sang ayah memberi perintah yang sama, tentu saja sambil memberikan sejumlah uang.
   Udin termasuk ANAK YANG PATUH. Meski pikirannya dipenuhi  tanda tanya, ia melaksanakan juga perintah ayahnya.  Kali ini ia beli di WARTEG. Tempatnya tidak seberapa jauh. Tapi di warteg itu, ia harus rela antri setengah jam.
   Tapi…, sesampai di rumah sang ayah juga menyuruh meletakkan nasi itu di meja. Sang ayah memberi uang lagi. “Belilah nasi,” perintah ini terulang untuk ketiga kalinya.
   Udin tidak menggerutu. Tapi kali ini ia membeli nasinya cuma di WARUNG KECIL DEKAT RUMAHNYA. Dan ia pun kembali ke rumah.
   “Makanlah…,” perintah sang ayah.
   Udin terdiam seperti ingin mendengar penjelasan dari ayahnya.
   “Aku tahu siang ini waktunya makan…,” ujar sang ayah, “Maka kusuruh engkau beli nasi.  Sayangnya engkau salah menafsirkan perintah ayah. Engkau beli NASI PADANG,  makanan yang TERLALU PEDAS TIDAK BAIK BAGI LAMBUNGMU?  Engkau beli NASI WARTEG, yang masakannya terlalu banyak VITSIN.  Bahan kimia itu juga tidak baik bagi kesehatanmu. Lalu ketika ayah tahu engkau beli NASI DI WARUNG SEBELAH, ayah segera menyuruhmu MEMAKANNYA, karena ayah tahu NASI PECEL CUKUP MENGANDUNG GIZI, dan engkau JUGA  MENYUKAINYA.”

Sahabat…., cerita di atas hanya sebuah ANALOGI.  Ketika kita MENJALANKAN PERINTAH TUHAN, itu dimaksudkan untuk KEBAIKAN MANUSIA ITU SENDIRI. Bukan untuk KEPENTINGAN TUHAN. Tuhan tidak butuh DISEMBAH, DIPUJI, DIAGUNG-AGUNGKAN. Tanpa disembah, Tuhan tetap DZAT YANG MAHA BESAR DAN MAHA BERKUASA. Tanpa dipuji dan diagung-agungkan,  Tuhan tetap DZAT YANG MAHA BAIK DAN PENUH KASIH.
Faktanya…., banyak di antara kita jadi UDIN-UDIN YANG SALAH MENG-INTERPRETASI-KAN PERINTAH TUHAN. Kita memakai CARA YANG BERLIKU-LIKU DAN MEREPOTKAN  untuk melaksanakan perintah.  Bagi yang sudah tahu CARA YANG MUDAH, mungkin sekali dia akan bilang, “Ah, gitu aja koq repot!”
By: Susilo Pranowo


Selasa, 04 September 2012

PERMINTAAN SUAMI


Suatu hari Amir berkata pada istrinya dengan nada yang tak biasanya.

“Wahai istriku,” kata Amir, “Apakah engkau masih mencintaiku.”
“Tentu saja,” jawab Aminah tanpa ragu.
“Kalau begitu engkau pasti ingin membuatku bahagia, bukan?”
“Tentu saja,” Aminah masih belum tahu kemana arah bicara suaminya.
“Istriku…., aku ingin menikah lagi.”
Barulah Aminah terperanjat.
“Bagaimana istrIku, boleh tidak?”
Lidah Aminah kelu. Tak mampu menjawab. Wanita mana yang ingin dimadu?
“Daripada aku berzinah dan melakukan dosa, bukankah lebih baik aku menikahi wanita itu?” bujuk Amir. “Bukankah halal hukumnya, seorang lelaki memiliki lebih dari 1 istri?”
“Hukum mana yang engkau jadikan dalih?” ketus suara Aminah kini.
“Tentu saja hukum agama. Bukankah Rasul juga demikian?”
“Suamiku…, bertanyalah kepada hati nuranimu…., lakukan perenungan yang dalam…., apakah keinginanmu untuk MENIKAH LAGI karena mengikuti apa yang telah dilakukan Rasul….? Atau hanya untuk PELAMPIASAN NAFSUMU SEMATA…?”
“Yang jelas aku ingin terhindar dari dosa!” Amir masih berdalih.
“Sadarkah kau, wahai suamiku…, dalam proses mengenal wanita itu…, sudah berapa banyak DOSA YANG TELAH KAU PERBUAT? Bukankah sebelumnya engkau telah BERZINAH MATA, BERZINAH PIKIRAN…, terlebih lagi… engkau TELAH MENGKHIANATIKU, MENYAKITI HATIKU.  Apakah itu semua belum merupakan dosa..????”
“Tapi Rasul juga melakukan itu…!”
“Tapi aku TIDAK MAU DIMADU…!!!!”
Dan pertengakaran pun terjadi.
Ramai sekali….

Sahabatku semua…, KEINGINAN ADALAH WUJUD DARI NAFSU. Dengan dalih meniru perbuatan Rasul, berapa banyak WANITA YANG TELAH TERSAKITI…???  Ini hanya contoh kecil dari sekian banyak manusia yang sebenarnya tidak mampu mengendalikan hawa nafsunya, lantas bersembunyi dan berlindung di balik AJARAN AGAMA.  Bom-bom pun diledakkan dengan menganggapnya sebagai pelaksanaan firman Tuhan.  Perbuatan anarkis pun dihalalkan dengan dalih membela dan menegakkan tiang agama.

Sahabat,  saya yakin, orang yang WARAS MENTAL SPIRITUAL tentu tidak akan melakukan hal seperti itu! Mari  menjalankan perintah agama dengan PIKIRAN YANG WARAS dan PEMAHAMAN YANG BENAR.  Tidak ada EFEK NEGATIF dari CINTA KASIH.  Bila masih ada orang tersakiti dari perbuatan cinta kasih kita, itu artinya kita belum  BERCINTA KASIH DENGAN BENAR. Tidak ada PEMBELAAN AKIDAH AGAMA YANG BENAR dengan MEMAKSAKAN KEHENDAK KEPADA ORANG LAIN.
By: Susilo Pranowo

Kamis, 03 Mei 2012

KESELARASAN



Semalam,  salah seorang teman saya berkunjung. Teman saya ini sungguh saya kagumi karena PERJUANGAN HIDUPNYA. Kegigihannya ibarat MESSI yang sedang mencoba membuat GOAL ke gawang lawan.  Cuman bedanya…, kalau teman saya terus berjuang gigih sepanjang usianya, kalau Messi cuman sepanjang 2 X 45 menit. Hehehe….

Ketika itu saya sedang browsing, cari-cari informasi tentang USAHA CUTTING STICKER. Karena, ada teman lain yang mengajak BERMITRA USAHA.  Tapi ketika saya ceritakan tentang  hal itu, teman saya yang baru berkunjung ini bilang dengan tegas. “Tidak usah.”

“Kenapa?” tanya saya heran.  Teman saya ini lalu bercerita tentang  “SEPAK TERJANG”  teman saya yang mengajak bermitra usaha (yang tentu saja, belum saya ketahui). Ceritanya melingkar ke teman-teman saya yang lain. Sehingga, saya pun MEMPERCAYAI cerita teman saya ini. Saya pun memutuskan untuk MEMBATALKAN atau paling tidak MENUNDA  bermitra usaha cutting sticker. Dari hasil browsing saya ketahu bahwa harga MESIN CUTTING STICKER cukup murah, saya berencana untuk membeli sendiri  alias tidak perlu lagi REKANAN.

Teman saya bilang, “Tidak semua teman itu baik. Yang kelihatan baik, tidak sepenuhnya baik. Apalagi kalau itu sudah menyangkut uang.”  Bang Napi juga bilang: “Waspadalah! Waspadalah!” Hehehe….
Sahabatku semua…, GOAL SETTING menentukan HASIL.  Maka, ciptakan  GOAL SETTING YANG TINGGI UNTUK MENGHASILKAN HASIL YANG TINGGI PULA.  Dan kalau kita MERASA KESULITAN MENCAPAI HASIL YANG TINGGI ITU, maka CARILAH REKANAN.  Ada analogi sederhana. Misal rumah Anda di Surabaya, dan hendak pergi ke Jakarta untuk mengambil  SEJUMLAH UANG. Jika Anda perginya dengan NAIK SEPEDA, bukankah ini akan banyak memakan waktu dan tenaga? Beda sekali kalau Anda mengajak teman Anda yang PUNYA MOBIL untuk MENGAMBIL UANG ITU. Mesti Anda harus BERBAGI PENDAPATAN, tapi bukankah cara ini JAUH LEBIH EFISIEN?

Sekarang yang jadi pertanyaan:  APAKAH HARUS SEPERTI ITU….??? Ternyata tidak! Kalau Anda mampu meningkatkan KEMAMPUAN ANDA SENDIRI,  Anda TIDAK HARUS MENCARI REKANAN.  Justru ADANYA REKANAN BISA BERARTI PEMBOROSAN.
Ada sebuah analogi lagi… Suatu hari Badu menemukan sebuah LUBANG yang didalamnya terlihat sebuah KALUNG MUTIARA. Badu berusaha mengambil kalung itu. Tapi lubang itu TERLALU DALAM. Ia berusaha lagi. Tapi lubang itu tetap terlalu dalam.  Badu merenung dan memutar akal. Tak lama matanya segera berbinar. Di benaknya tercetus sebuah pikiran bahwa  BUKAN LUBANGNYA YANG TERLALU DALAM, TAPI JANGKAUAN TANGANNYA-LAH YANG TERLALU PENDEK.  Maka, diambilnya-lah SEBATANG RANTING. Dan kalung mutiara itu pun BERHASIL DIAMBILNYA.

Sahabatku semua,  istilah GOAL SETTING  sudah sering dibahas oleh para MOTIVATOR ataupun seorang TRAINER. Namun ada yang tak kalah pentingnya dengan hal itu, yaitu GOAL  PRAYING. Goal setting lebih tertuju pada  POSITIVE THINGKING, sementara goal praying menekankan pada POSITIVE  FEELING. Semua manusia dan seluruh alam semesta  BERADA DALAM GENGGAMAN  Zat Tuhan, Sang Pencipta, Sang Maha Kaya. Seluruh alam semesta ini bergerak bersama, berpusaran dalam keseimbangan yang sempurna. Karenanya, setiap komponen alam semesta harus selalu sinkron dengan gerakan makrokosmos ini. Inilah inti dari Hukum Ketertarikan Universal, yaitu KESELARASAN.

HASIL AKHIR merupakan kombinasi dari usaha, niat dan DOA, dengan penekanan pada rasa SYUKUR.  Anda semua percaya bukan bila SYUKUR adalah BIBIT YANG HARUS DITANAM untuk bisa MEMANEN BUAH BERKAH . Komponen-komponen inilah yang akan menciptakan KESELARASAN.  Tuhan itu MAHA KAYA. Maka jika kita TELAH MENEMUKAN KESELARASAN,  tak ada alasan lagi untuk kita MENJADI MISKIN.

By: Susilo Pranowo

Kamis, 19 Januari 2012

KUASA ALLAH


   Siang itu udara cukup panas, seorang KAKEK BERBADAN KURUS tampak berjalan di pinggir pesawahan.  Pakaiannya lusuh dan  sangat tampak sebagai orang tak punya.  Dengan bantuan TONGKAT KAYU, ia berjalan pelan. Peluhnya berlelehan.
   TEMAN SAYA yang melihat kakek itu jadi merasa iba. Panas yang begitu terik membuat si kakek tampak  begitu KEHAUSAN. Tanpa pikir panjang, teman saya membeli SEBOTOL AIR MINERAL. Lalu dihampirinya si kakek.
   “Terima kasih..,”  ucap tulus si kakek saat menerima pemberian teman saya.
    Teman saya lalu mengajak orang tua yang tampak tak berdaya itu ke satu TEMPAT TEDUH. Mungkin karena teman saya termasuk ORANG RELIGIUS, perbicangan yang terjadi di antara mereka jadi mengarah kepada PENGERTIAN SANG PENCIPTA.
   Pada awalnya, perbincangan berjalan biasa, seperti layaknya orang yang BARU KENAL. Tapi lama-lama, pengertian teman saya tentang  KETUHANAN banyak yang DIPATAHKAN oleh si kakek.  Dan saat perbincangan mulai terjadi ADU ARGUMENTASI, tiba-tiba si kakek bangkit dari duduknya. Serta merta ia memetik sehelai daun.
   “Jika engkau ingin tahu bagaimana KUASA ALLAH itu, coba perhatikan….,” ujar si kakek dengan tekanan suara amat dalam. Sehelai daun yang berada di tangannya lalu ia remas-remas.
   Apa yang terjadi?
   Mata teman saya melotot lebar. Mulutnya pun ternganga. Ia benar-benar  takjub dan heran menyaksikan sebuah peristiwa langka,  yang belum pernah dilihatnya seumur hidup. Ternyata…., daun yang diremas-remas si kakek berubah menjadi… SELEMBAR UANG KERTAS!
Adu argumentasi pun kontan terhenti.

   Sahabatku semua, Anda boleh tidak percaya pada cerita di atas. Tapi memang begitulah yang DICERITAKAN TEMAN SAYA kemarin.  Tapi, percaya atau tidak, saya mohon CERITA INI hanya dijadikan BAHAN PERENUNGAN,  bukan UNTUK DIPERDEBATKAN.
   Siapa yang mencari dengan sungguh-sungguh,  pasti akan menemukan yang dicarinya.
   By: Susilo Pranowo