Selasa, 19 Februari 2019

BAHASA KALBU




Ada yg aneh dari kebiasaan Mbah Karso Mletho. Bukan segelas kopi yg dia minta. Kali ini dia minta teh kental pahit. Mungkin ada yg kurang beres dg pencernaannya.
"Ketika manusia sdh menemukan jatidirinya, dia akan tahu bahwa tidak ada tataran bahasa tertinggi kecuali BAHASA KALBU."
    Celoteh lelaki tua itu memaksaku menyulut rokok. Sambil menyedotnya dalam, hasrat muncul ingin tahu lebih lanjut.
    "Hanya dengan bahasa kalbu..., orang akan tahu dan ikut merasakan kesedihan orang lain, tanpa orang lain itu berkata apa2. Dia akan bahagia saat menerima pancaran kebahagiaan dr orang2 di sekelilingnya."
   "Ah, mosok to, Mbah?" gurauku. "Lah kepriwe olehe bisa melajari, Mbah?"
   "Belajarnya tdk pakai buku, tidak pakai guru. Hanya bisa dicapai dg LAKU. Belajarnya tiap hari. Ujiannya pun tiap hari. Ijazahnya diterima SETELAH MATI. Orang yg masih pekok bahasa kalbu, tidak akan berani menyuarakan apa2 walau tahu ada ketidakadilan di depan matanya. Syahwat egonya-lah yg membuatnya pekok, mati rasa dan mati kepedulian."
   "Sik... sik..., Mbah...," potongku. "Belajar koq tanpa buku tanpa guru..., ki piye nalare? Belajar jadi orang baik pasti ada tuntunannya."
   "Menjadi orang baik itu buat apa?"
   "Ya tentu saja agar menjadi orang yg berguna to, Mbah."
   "Ketika sdh menjadi orang berguna, lalu pada akhirnya akan bagaimana?"
   "Kalau mati biar masuk surga."
   Mbah Karso Mletho tersenyum, lalu nyeruput teh paitnya. "Surga... jika engkau pelajari dan engkau cari lewat tulisan di buku, surga itu pun akan kau dapatkan hanya berupa tulisan. Berupa angan2 dan khayalan. Jika kau mencari surga itu juga hanya dari kata JARENE, maka bisa jadi surgamu itu juga masih JARENE."
   "Lah, terus kepriwe, Mbah?"
   "Bahasa pikiran hanya mampu menerima input berupa sesuatu yg riil, kasat mata. Kalau sesuatu itu tdk riil,  inputnya berupa praduga, kira2, kemungkinan, gek ngono gek ngene. Dan itu bisa salah.
   " Mbuh Mbah, pusing."
   "Pusing tanda mau mengerti. Jangan banyak berangan-angan jika tdk ingin kecewa. Jangan banyak berkhayal jika tdk ingin sakit jiwa."
   "Mbuh Mbah, pusing."
   "Pusing tanda mau mengerti."
   Demikianlah.
   Glodok, 14022019, 06.51

Minggu, 24 Juni 2018

BEDA KEYAKINAN DAN KESADARAN




Dalam masa pendidikan anak2, kita seringkali memberikan keyakinan tentang ini-itu…, tentang salah-benar…, tentang baik-buruk, dll. Keyakinan itu dijabarkan dengan gambaran2, contoh…, dengan cara lembut ataupun keras. Begitu juga halnya pada saat rapat, musyawarah, kutbah, ceramah,dll. Kita biasa berusaha MEYAKINKAN  SESEORANG agar mengikuti apa yg kita yakini. Pendeknya…, MEMBERIKAN KEYAKINAN… adalah soal bagaimana agar ISI PIKIRAN KITA bisa diterima orang lain untuk kemudian menjadi SEBUAH KEYAKINAN.

Sahabat….,
Tahukah kita semua bahwa KEYAKINAN adalah berasal dari INPUT PIKIRAN…????  Keberadaan pikiran adalah masih dalam wilayah ALAM MATERI. Sifatnya tidak kekal…, bisa diperbaharui…, bisa berubah-ubah. Maka jangan heran jika ada seseorang yang HANYA PUNYA KEYAKINAN…, jika hari ini getol belajar ngaji…, besok tiba2 jadi berhenti…, hari ini rajin ibadah…, besok jadi malas bin ogah-ogahan.

Keyakinan beda dengan KESADARAN.
Keyakinan terbentuk dari KESADARAN PIKIR. Saat RAGA MATI, maka fungsi OTAK TERHENTI. Karena fungsi otak terhenti, kesadaran pikir pun hilang… lenyap…. Akibatnya…, keyakinan pun turut hilang bersama induk dari  keyakinan itu sendiri.
Tapi…, KESADARAN terbentuk karena KEMAUAN dari RUH, yang sifatnya ABADI. Orang yang berada dalam KESADARAN tidak akan pernah LUPA.., karena ingat dan lupa letaknya dalam otak, sementara KESADARAN berada dalam sang ruh. Karena inilah…, kaum SPIRITUALIS selalu mencari dan menambah KESADARAN…, bukan KEYAKINAN!

Demikianlah….
Semoga kita semua menjadi ORANG YANG SADAR DALAM KESADARAN.
Siapa yang sungguh2 mencari akan menemukan.
Jika menanam pohon, terus periharalah.
Tetaplah membuang sampah pada tempatnya.
Glodok, 24 Jun 18, 6.52.

Minggu, 03 Juni 2018

BISAKAH BELAJAR MARIFAT?



Seorang marifat tidak hanya belajar dari buku-buku…, dari petuah-petuah…, karena seluruh alam dan segala isinya adalah guru yg memberikan pelajaran dalam keheningan dan dalam keramaian, baik yg kelihatan maupun yg tak kelihatan. Dirinya adalah bagian dari alam…, adalah alam itu sendiri. Dia tidak besar, tidak juga kecil. Dia adalah bersama… antara ada dan tidak ada.

Seorang  marifat tdk pernah merasa kehilangan… karena setiap saat dia telah menerima.  Dia tidak pernah merasa sakit… karena sakit itu adalah kedemikianan yang ada. Dia tidak sakit hati saat dihina… karena kehinaan itu memang dirinya.

Seorang marifat tidak menghitung-hitung pahala…, tidak merindukan surga…, karena surga bukanlah tempat…, surga adalah suasana…, dan suasana surga itu telah dia ciptakan sendiri dalam hatinya, dalam sikap batinnya…, dalam kesadaran pikir dan roh-nya.

Seorang marifat akan menyelam dalam kedalaman yg  paling dalam. Dia belajar dari pandangan matanya…, belajar dari suara yg menyentuh indera pendengarnya…, belajar dari rasa yg menyentuh kulit… dan yg menyentuh kalbunya. Dia tidak pernah diam…, karena setiap gerak adalah dirinya. Dia lebur dan larut dalan kedemikianan. Dia MENJADI GARAM untuk memberikan rasa pada semua makhluk. Dia hilang… tapi rasa yg diberikannya tetap dapat dirasakan. Dia lebur MENJADI RAGI… lebur dan hilang untuk merubah sifat terhadap apa yg didekatinya.

Seorang marifat melempar jauh KEAKUANNYA… karena dia bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa. Dia adalah bagian yg tanpa bagian. Dia mampu membaca dalam kebutaan…. Mampu mendengar dalam ketuliannya… karena dia adalah RASA.

Glodok, 3 Juni 2018. 6.30 AM
Tetap buanglah sampah di tempatnya.
Jika menanam pohon, terus jaga dan rawatlah.

Selasa, 27 Februari 2018

SAMIAJI DALAM KONFLIK PILPRES


Samiaji adalah pewaris sah tahta Kerajaan Hastinapura. Kurawa yg berjumlah seratus  datang ke istana tanpa tata krama sbg layaknya seseorang yg juga keturunan raja. Mereka menekan dan meminggirkan peran Samiaji di istana Hastinapura.


Destarastra semakin terlihat  kondisi fisiknya tidak mampu sekedar membawa dirinya duduk di singgasana. Perannya semakin didominasi oleh sang anak sulung, Duryudana, yang oleh hasutan pamannya, Sangkuni, secara halus untuk mengambil alih kursi kekuasaan di negri itu.

Bisma dan Arya Widura yang semula mengambil posisi membantu Destarastra yang buta dalam memerintah negeri, justru oleh Duryudana dibuat seperti harimau ompong. Mereka tetap diberi keistimewaan di istana, tapi kekuasaan dan pengaruhnya perlahan dibatasi. Arya Widura hanya sekedar sebagai penasihat setelah Sangkuni, sementara Bisma yang seharusnya menjadi pimpinan tertinggi panglima perang negri Hastinapura, digeser menjadi ‘hanya’ sekedar penasihat, sementara panglima diserahkan kepada anak muda cakap yang kesaktiannya dikagumi Duryudana. Seorang anak muda bernama Karna, yang kemudian memang tahu berterima kasih dan selalu berdiri di belakang Duryudana.

Pengaruh Sangkuni terhadap Duryudana ternyata mampu membuatnya buta hati sehingga bisa memerintahkan muslihat untuk menjebak saudaranya sendiri di sebuah bale-bale dan membakarnya di saat mereka terlelap. Kisah ini dikenal sbg BALE SIGALA-GALA.

Beruntung Pandawa dapat selamat dan menyusuri dasar bumi, hidup di negri Sapta Pratala, jauh di kedalaman perut jagat. Eh..., beruntung...??? Tentu saja bukan! Disana ada peran amalan kesaktian Samiaji, yang pada tingkat kepasrahan tinggi, justru hal-hal yang diinginkan bisa terwujud, sekalipun hal itu merupakan sesuatu yang tak mungkin. Semua terkejut, ketika beberapa tahun kemudian mereka kembali lagi ke istana Hastinapura!

Belajar dari kisah Samiaji… dalam pilpres 2018…, siapa SAMIAJI-nya…? Siapa DURYUDANA-nya…? Tapi mudah2an tidak ada sang tokoh licik-jahat… SENGKUNI..!
Dalam sejarah  peradaban manusia, PEREBUTAN KEKUASAAN selalu menjadi kisah menarik.
Lewis Coser, seorang tokoh teori pemahaman konflik, berpendapat bahwa: masyarakat selalu berada dalam KONDISI KONFLIK. Menurutnya, suatu struktur sosial yg tampak tenang pun, juga dipenuhi beragam PERGOLAKAN dan upaya saling jegal guna menggoyahkan dan memperebutkan KEKUASAAN... Hakikat dari masyarakat adalah PEREBUTAN KEKUASAAN TANPA HENTI...!
Kubu yang berseteru saling melakukan konsolidasi (penguatan diri). Suatu konflik dapat dikatakan POSITIF apabila TIDAK MENYINGGUNG TEMA INTI. Tema inti yg dimaksud adalah PERIHAL MENDASAR YG MELANDASI SUATU HUBUNGAN.
Contoh kasus:
-  Seorang suami-istri tidak akan BERCERAI apabila memperdebatkan masalah kemana TUJUAN PIKNIK MINGGU INI. Hal ini beda dengan...
-  Seorang suami ketahuan SELINGKUH, dan terjadilah perdebatan.

Loyalitas atau kesetiaan adalah PELETAK DASAR dalam hubungan suami-istri.  Begitu pula bila dua orang sahabat tidak akan jadi musuh apabila hanya memperdebatkan SIAPA YG AKAN MEMBAYAR KOPI YG TELAH DIMINUM.
Dalam ranah kenegaraan, NKRI tidak akan pecah manakala ADA KOMPROMI antara mereka yg PRO PANCASILA DAN YG TIDAK, yg nasionalis dan yg agamis, demokrasi ataukah kilafah. Disinilah dibutuhkan SAFETY VALVE (katup penyelamat) untuk menjadi MEDIATOR atas konflik yg terjadi. 

Maka... biarlah menjadi begitu.... NUSANTARA AKAN JAYA PADA WAKTUNYA. Diawali konflik besar.... SATRIA PININGIT muncul ke permukaan... Membawa damai dan kesejahteraan. Dan tetaplah ELING LAN WASPADA...

JAYA DAN JAYALAH… INDONESIAKU…!!!

NUSANTARA DAMAI, TENANG, RAHAYU….

Glodok, Karangrejo, 27/2/2018, 9.34 PM

Minggu, 18 Februari 2018

MUNGKINKAH MENIKMATI SURGA TANPA KESADARAN RUH


   
Suatu kali aku main ke rumah Jon Koplo. Seperti biasa istrinya ikut menyambut dengan ramah.  Setelah dihadapkan segelas kopi dan makanan kecil , aku berbincang.
   “Kabar anak-istrimu gimana?” Tanya Jon Koplo.
   “Alhamdulillah… baik-baik saja,” jawabku.
   “Badanmu makin kurus  saja. Jangan banyak pikiran to….”
   “Hahaha…. Badan kurus tidak ada hubungannya dengan banyak pikiran atau tidak.  Badan kurus… atau badan gemuk… kalo ada hubungannya dengan hidup makmur … mungkin ‘iya’…”
   Jon Koplo ikut tertawa, “Eh.., ngomong dingomong,  ada kalimat bijak… UCAPANMU MENUNJUKKAN JALAN PIKIRANMU. TINDAKANMU MENUNJUKKAN SIAPA DIRIMU. Sementara…, jalan pikiran berperanan utama dalam sebuah tindakan. Pikiran keliru menghasilkan tindakan keliru. Pikiran lurus menghasilkan tindakan lurus…. Tapi masalahnya…, bagaimana kita bisa MENJAGA SUPAYA JALAN PIKIRAN TETAP DALAM KONDISI LURUS…?”
   “Nah itu…,” sahutku. “Banyak orang MERASA BENAR padahal cuma menjadi PEMUAS EGO PIKIRAN yang selalu mencari PEMBENARAN DIRI.  Pikiran benar sangat tergantung dari pengalaman hidup seseorang. Dalam pikiran benar  tidak berlaku rumus 1+1=2. Pikiran benar dalam otak seseorang sifatnya absurd, relative, dan tidak mutlak.”
   “Betul. Pikiran bekerja selama otak masih berfungsi secara medis.  Kesadaran pikiran seseorang akan hilang lenyap… jika otak tdk lagi berfungsi. Manusia yg otaknya tak lagi berfungsi dikatakan bahwa ia TELAH MATI. Tapi…. Otak yg masih berfungsi tidak otomatis ia masih punya kesadaran pikir. Sementara, kesadaran pikir inilah yang membuat seseorang bisa merasakan kesenangan, kenikmatan, belajar sesuatu, atau  sekadar berharap dan berangan-angan…”
   Aku diam saja. Setelah nyeruput kopinya, Jon Koplo melanjutkan bicaranya.
   “Sejak kita mengenal dunia hingga kita dewasa dan menua seperti sekarang ini… semua bacaan, semua pelajaran…, semua inputan…, semua induksi baik positif ataupun negative… MASUKNYA KE DALAM KESADARAN PIKIR yg bersumber di otak.  Coba kalau ada seorang dokter jatuh terbentur kepalanya, kemudian terganggu fungsi otaknya, maka bisa saja semua ilmu kedokterannya hilang begitu saja. Karena, ada yg hilang dalam kesadaran pikirnya.
   Kesadaran pikir… boleh kita sebut sebagai JIWA. Orang yg kesadaran pikirnya mengalami gangguan,  orang ini disebut  SAKIT JIWA.  Orang ini tidak lagi memiliki kontrol terhadap apa yg ia lakukan.  Ia bisa mekakukan apa saja tanpa peduli akan akibatnya. Meloncat dari jembatan yg tinggi pun, ia tdk takut, padahal itu bisa membunuhnya.
    Oke… kita kembali dulu ke anasir pembentuk manusia. Di sana ada ruh…, pikiran…, dan raga. Kesadaran ruh bisa kita namakan sebagai SUKMA. Ruh mutlak harus ada agar manusia bisa disebut HIDUP. Sementara…, hidup di alam fana… seseorang harus memakai raga. Dan raga bisa uzur kemudian berhenti semua fungsi organnya alias MATI. Rasa enak atau tidak enak, nikmat atau tidak nikmat…, yg merasakan adalah KEASADARAN PIKIRAN… bukan raga! Walaupun rasa-rasa itu langsung bersentuhan dengan raga.
   Sederhananya begini…, seseorang yg DIBIUS  TOTAL…, katakanlah hendak menjalani operasi,  maka dia tidak akan bisa merasakan apapun… karena KESADARAN PIKIRNYA SUDAH HILANG. Tapi orang ini masih hidup karena dia masih punya ruh. Masalahnya…. Tidak dulu… tidak sekarang… banyak orang yg TIDAK MENGENAL RUH-nya SENDIRI. Padahal…, saat seseorang sudah mati… bukankah ruh-nya akan terus hidup… dan ABADI. Bagaimana mungkin RUH BISA MERASAKAN SURGA sementara sang ruh ini TIDAK PUNYA KESADARAN…????”
   Aku manggut-manggut saja. “Bener juga sih. Maka aku suka heran melihat orang yg sangat yakin akan masuk surga… sementara kesadaran ruh-nya tidak pernah diperbaiki.”
   “Bagaimana cara kita mengenal ruh kita sendiri… biar kalau raga mati, ruh kita tidak jadi linglung dan tersesat karena tdk punya keasadaran….?”
   “Caranya…?”
   “Wah…, keasyikan ngobrol…, sori loh ya… sudah malam. Besok bisa dilanjut,” pungkas Jon Koplo.
   Aku pun berpamitan.
Banyak jalan menuju Roma.
Dan jalan itu bisa dari mana saja.


Glodok, 18 Februari 2018.  5.24 PM.

Kamis, 15 Februari 2018

ANDA SAKIT JIWA

  
Beberapa hari yang lalu, Sodrun berkunjung untuk menjenguk kerabat di RS-Jiwa Menur.
Kebetulan bukan di jam sibuk, Sodrun menemui seorang dokter, dan  mengajaknya ngobrol-ngobrol tentang segala hal. Mulai dari bagaimana penanganan pasien sampai ke masalah-masalah umum dalam hidup.
Sampai tiba saatnya ketika Sodrun bertanya kepada dokter itu....
“Dok, gimana sih caranya dokter ngetest pasien-pasien dokter itu masih gila atau sudah waras ?”
“Oh mudah saja, kami mengisi bak mandi dgn air sampai penuh, lalu kami suruh mereka mengosongkan bak mandi dgn memberikan ke orang itu :
1. Sendok Teh
2. Gelas
3. Gayung
Pilih yang mana ?
Lalu kita minta dia untuk mengosongkan bak mandi itu”, jawab si Dokter.
“Ooooh… yang sudah waras pasti pasti pilih gayung. Soalnya itu paling gede dan cepat", kata Sodrun dengan penuh percaya diri.
Terjadi keheningan sejenak . .
...........................
…………………………
Lalu sang Dokter berkata, “Tidak, kalau orang itu sudah normal, dia akan cabut aja penyumbat bak mandi nya…"
Sodrun bengong….

Sahabat…, apa pesan moral dari cerita di atas???
Sadarkah Anda bahwa dalam hidup ini Anda pernah…, atau bahkan sering…, membuat pilihan  yang sebenarnya itu bukanlah pilihan yang tepat…? Anda memilih… memutuskan sesuatu…, hanya berdasarkan EGO… biar kelihatan “wah”. Biar kelihatan Anda adalah manusia superior. Anda masih butuh sebuah PENGAKUAN, padahal semua itu hanyalah produk KESADARAN PIKIR…, yg mencari kepuasan ego dan kenyamanan dengan memaksakan pembenaran sesaat…!


Hidup memang pilihan. Tapi hidup bukanlah MULTIPLE CHOICE dimana jika Anda memilih salah salah satu, pasti ada yang benar. Bukan! Kayakinan saja tidak cukup. KAWERUH atau input yg benar-lah yang akan menyelamatkan Anda dari pilihan yg salah! Jika Anda sakit jiwa…, maka hilanglah semua ilmu atau apapun pengetahuan yg pernah Anda pelajari seumur hidup!

BERKESEDARAN SECARA UTUH… Tidak separuh-separuh! Kesadaran pikir selalu punya ALIBI dan CARA untuk menemukan PEMBENARAN. Tragisnya, jika Anda mati…, mengenal diri Anda secara ruh,  mustahil bisa. Karena…, kesadaran yg berperanan cuma kesadaran pikir yg berpusat di otak. Jika otak Anda mati secara medis, maka hilang sudah semua kontrol terhadap hidup Anda yg selanjutnya. Hidup secara ruh…, bekalnya adalah kesadaran ruh.

Glodok, 15 Februari 2018, 7.27 PM


Minggu, 24 Desember 2017

JAGA PIKIRANMU


PIKIRANMU MENUNJUKKAN SIAPA DIRIMU.

Saat ini saya sedang melaksanakan amanah MENERUSKAN PEMBANGUNAN sebuah masjid di daerah saya tinggal. Namanya MASJID… yg notabene milik orang banyak, tentu suara2 miring selalu ada. Yg miringnya mencapai 80 derajat ada…. Yg ngomong miringnya sampai mirip orang SINTING pun ada….

Tidak dulu tidak sekarang… Orang yg selalu GOLEK BENERE DHEWE… masih ada. Sinis… mencemooh… masih ada…, walau cuma keluar dari mulut 1-2 orang.

Sahabat…,
Hidup yg se-benar2nya hidup adalah BISA MEMBERI MAKNA BAGI ORANG LAIN. Hidup yg sesungguhnya hidup adalah yg BISA MEMBERIKAN MANFAAT BAGI ORANG LAIN. Jika HARTA-mu  tak cukup untuk memberikan manfaat bagi orang  lain, berikan TENAGA-mu. Bila TENAGA-mu tak cukup memberikan manfaat bagi orang lain, berikan PIKIRAN-mu.
Nah…,  perihal sumbang-saran soal PIKIRAN inilah yg hendak saya tuangkan dalam tulisan ini.
Satu catatan penting bagi kita adalah…. KENDALIKAN PIKIRANMU…! Karena pikiran bersifat MENIPU DAN HASUT! Contoh sederhananya adalah…: Karena kita tidak tahu apa yg akan terjadi di depan, maka PIKIRAN memberikan SINYAL PALSU, hingga timbul RASA KHAWATIR. Dengan kata sederhana, bukankah kita sering diliputi pikiran… “Jangan2 nanti begini… jangan2 nanti begitu… Ngko gek ngene… ngko gek ngono…?” Dan kita tidak pernah tahu PEMIKIRAN ITU BENAR  ATAU SALAH sebelum sebuah peristiwa yg ada dalam pikiran kita itu terjadi. Gih nopo gih…??? Hehehe…..

Sahabat…,
Jika engkau TIDAK TAHU bahwa pemikiranmu itu BENAR…, tak perlu pemikiranmu engkau sampaikan kepada ORANG LAIN.  Seringkali menjadi benar bahwa DIAM ITU EMAS. Lebih baik DIAM jika engkau tidak menguasai suatu hal, karena bisa jadi PIKIRAN YG KAMU KELUARKAN LEWAT MULUTMU justru akan menunjukkan KEBODOHANMU..!

Contoh KEJADIAN NYATA yg baru saja terjadi 2 hari yg lalu. Pagi sebelum jam 7 di depan halaman masjid yg diamanahkan kpd saya untuk SEBAGIAN  KELANJUTAN PEMBANGUNANNYA…,  saya bertemu “ORANG TERHORMAT”.  Kenapa saya katakan orang terhormat dalam tanda kutip…?  Orang ini selain sudah bergelar haji, juga tinggi sekolahnya, juga mantan pejabat BUMN.
Setelah ngomong ngalor-ngidul, orang ini menyampaikan pemikirannya bahwa…. MEMBANGUN MASJID TIDAK PERLU BAGUS-BAGUS. MASJID DIKEMBALIKAN SAJA KEPADA FUNGSI UTAMANYA.

Sahabat….,
Dua kalimat dari orang terhormat tersebut  bermakna SANGAT MENDASAR bagi saya. Kalimat pertama… MEMBANGUN MASJID TIDAK PERLU BAGUS-BAGUS… mengandung arti bahwa orang yg punya pemikiran ini adalah ORANG YG TIDAK KEKINIAN alias ORANG MUNDUR. Tapi mudah2an saya yg KELIRU.
Sejak lama kita tahu bahwa Masjid Istiqlal Jakarta adalah salah satu kebanggan orang Indonesia karena merupakan masjid terbesar di Asia Tenggara dan ke-4 di dunia. Lalu…. Jika kita kembali kepada pemikiran bahwa MEMBANGUN MASJID TIDAK PERLU BAGUS-BAGUS…. Maka, MASJID ISTIQLAL TIDAK AKAN PERNAH ADA…! Lebih jauh lagi… Masjid2 di Arab sana yg sedemikian fantastis  juga TIDAK AKAN PERNAH ADA! Paling dekat… Negara tetangga… Semua masjid yg begitu megah dan indah di BRUNEI dan MALAYSIA juga tdk akan pernah ada!
Maka… saya yakin jika suatu saat orang terhormat ini melihat sebuah masjid dengan kubah terbuat dari EMAS… dia akan jatuh PINGSAN..!  Atau paling tidak dia akan melongo terheran-heran…. Hehehe….

Sahabat..,
Ibadah memang soal URUSAN HATI DAN KEBULATAN PIKIRAN untuk penyerahan diri. Tapi alangkah nyaman RAGA DAN JIWA kita bila TEMPAT kita beribadah berhawa sejuk dan sedap dipandang. Maka dari itu…. Saya yakin… dan seyakin-yakinnya bahwa semua pengurus masjid menginginkan yg terbaik bagi masjidnya, menginginkan yg terbaik bagi jamaahnya.  Begitu pula soal pembangunan fisik masjidnya. Tidak mungkin ada pengurus masjid yg punya pemikiran bahwa masjidnya akan dibangun ala kadarnya! Dan…, mudah2an saya tidak keliru.

Lalu soal kalimat kedua…,  MASJID DIKEMBALIKAN SAJA KEPADA FUNGSI UTAMANYA.
Anak2 jaman NOW pasti tahu bahwa saat ini fungsi masjid BUKAN HANYA SEBAGAI TEMPAT SHOLAT. Entah itu untuk belajar ngaji, ceramah agama, kegiatan seni, dll. So…, jangan pernah ajak KAMI KEMBALI KE ZAMAN JAHILIYAH…! Sori bro, saya tidak sepaham dengan pemikiranmu yg KERDIL dan MUNDUR..!

Aja rumangsa bisa…, ning bisaa rumangsa.
Karangrejo, 09.00, 24 Desember 2017

By: Wong Gemblung Susilo Pranowo